WEB BLOG
this site the web

NASKAH CERAMAH

Assalamu ‘alaykum,

Innal hamda liLLAHi nahmaduHU wanasta’inuHU wanastaghfiruHU,
Wana’udzu biLLAHi min syururi anfusina wamin sayyi’ati a’malina,
Man yahdihiLLAHu fala mudhillalaHU, waman yudhlilHU fala hadiyalaHU,
Wa asyhadu an lailaha illaLLAHu wahdaHU la syarikalaHU,
Wa asyhadu anna Muhammadan ’abduHU warasuluHU SAW,

Fainna ashdaqal haditsi kitabuLLAHi, wa khairal hadyi hadyu Muhammad SAW,
Wa syarral umuri muhdatsatuha, wa kulla muhdatsatin bid’ah wa kulla bid’atin dhalalah wa kulla dhalalatin fin nar

Amma Ba’du,

Saya bersaksi bahwa yg wajib diikuti hanyalah al-Qur’an dan as-Sunnah yg shahih, yg bebas dari kesalahan hanyalah keduanya, dan bahwa al-ma’shum hanyalah nabi Muhammad SAW tiada selainnya, & bahwa beliau SAW memerintahkan agar berpegang teguh pd sunnah beliau & sunnah khulafa’ ar Rasyidun setelah beliau SAW.

Dan sayapun bersaksi bahwa selain nabi SAW maka perkataannya bisa diterima atau ditolak, & bahwa setiap manusia tdk ada yg sempurna, & bahwa seorang alim betapapun tinggi ilmunya maka dia hanyalah manusia biasa, & bahwa fatwa serta pendapat bisa dipegang teguh jika ia disepakati oleh jumhur ulama kaum muslimin.

Dan sayapun bersaksi bahwa seorang alim yg berijtihad, jika ia adalah orang yg bersih aqidahnya dari bid’ah sesuai dg kesepakatan jumhur ulama, kemudian dia berijtihad & ijtihadnya sesuai dg syarat2 ijtihad yg juga disepakati oleh jumhur ulama kaum muslimin, maka ijtihadnya adalah shah & jika ia benar maka ijtihadnya mendapatkan 2 pahala & jk ia salah maka ijtihadnya mendapatkan 1 pahala.

Dan sayapun bersaksi bahwa ijtihad yg telah memenuhi syarat seperti di atas, maka harus dihormati & diakui sebagai sebuah ijtihad, sekalipun tidak sesuai dg ijtihad ulama ataupun kelompok yg lainnya. Dan sikap menolak & mementahkan sebuah ijtihad yg telah shah sbgm disebutkan di atas adalah sebuah kebodohan (jahil) & sikap mencaci para mujtahid tsb adalah sikap ghuluww & tatharruf (ekstrem & menyempal) sbgm yg disabdakan oleh al-Musthafa SAW

Ikhwan wa akhwat fiLLAH rahimakumuLLAH,

Sungguh suatu bahaya yg sangat besar dlm ummat ini jk ada seorang atau sekelompok orang yg mengatasnamakan ulama kemudian mencaci orang atau kelompok lainnya tanpa didasari dalil2 yg disepakati oleh salafus shalih.
Pengetahuan ttg ’ulum syar’iyyah tanpa dilandasi dg akhlaq seorang ulama akan menjadi kapak penghancur yg amat dahsyat, sikap moderat (tdk ekstrem & tdk pula longgar) adalah sunnah nabi SAW & shahabat ra, sementara sifat berdalam2 & mencari2 sampai terlalu detil kemudian memvonis yg lain adalah perbuatan bid’ah & sangat dibenci oleh sunnah para sahabat ra, sebagaimana disebutkan oleh Imam Bukhari dlm shahihnya : Dari Yusuf bin Mahik ia berkata : ”Saat aku berada disisi Aisyah Ummul Mu’minin ra, datanglah seorang Iraq kepadanya lalu bertanya : Kain kafan apakah yg paling baik? Aisyah ra menjawab : Apa salahmu (dg kain mana saja)? Orang itu kemudian bertanya lagi : Wahai ummul mu’minin, aku ingin melihat mushhafmu, maka perlihatkanlah padaku? Tanya Aisyah ra : Mengapa demikian? Jawab orang itu lagi : Agar aku bisa membaca Qur’an sesuai dengannya, karena mushhafku tdk tertib. Jawab Aisyah : Apa salahnya membaca dengan mushhafmu saja?!”

Imam Ibnu Hajar dlm syarahnya thd hadits ini berkata : ”Barangkali orang itu pernah mendengar hadits Samurah bin Jundab ra yg marfu’ & ingin mempertanyakannya pd Aisyah ra yg berbunyi : Pakailah pakaian yg putih & pakailah ia untuk mengkafankan mayat2 kalian karena lebih bersih & baik. Hadits ini dishahihkan oleh Tirmidzi dari riwayat Ibnu Abbas. Maka Aisyah menjelaskan agar tdk berdalam2 & terlalu banyak bertanya, sehingga ia ra berkata : Apa salahmu (dg kain mana saja)?! Hal ini juga dilakukan oleh para sahabat yg lainnya, seperti Ibnu Umar ra ketika ada seorang yg bertanya ttg hukum terkena darah nyamuk, maka Ibnu Umar ra menjawab : Perhatikanlah orang ini, ia bertanya ttg hukum darah nyamuk padahal mereka telah menumpahkan darah cucu rasuluLLAH SAW (Al-Husein ra)?!

Nah, demikianlah as-Sunnah memandu kita untuk berbuat, hendaklah adil & moderat dlm berbicara, berprilaku & berfatwa & hendaklah kita menjauhi sikap berdalam2 dlm suatu hal sehingga yg halal kemudian menjadi haram, yg mubah kemudian menjadi bid’ah dan sebagainya, karena prilaku yg demikian adalah dosa besar, sebagaimana disebutkan dlm hadits nabi SAW : ”Orang muslim yg paling besar dosanya ialah seorang yg menanyakan suatu yg tidak diharamkan kemudian karena pertanyaannya itu maka sesuatu itu menjadi diharamkan.” . Bahkan permasalahan tsb juga telah dilarang oleh ALLAH SWT dlm al-Qur’an (QS al-Maidah, 5/101).

Bahkan Ibnu Abbas ra berkata : Aku tdk melihat suatu kaum yg lebih gampang dari para sahabat rasuluLLAH SAW, mereka tdk bertanya pd nabi SAW kecuali hanya 13 pertanyaan saja hingga nabi SAW wafat. Ketigabelas masalah itu seluruhnya tercatat dlm al-Qur’an, yg menggunakan lafzh YAS’ALUNAKA (mereka bertanya kepadamu wahai Muhammad), kemudian Ibnu Abbas ra berkata : Mereka tdk pernah bertanya kecuali hal2 yg sangat penting saja.

Seorang ulama salaf, Imam al-Qasim berkata : Sungguh kalian banyak bertanya ttg hal yg tdk kami ketahui & mengkaji terlalu mendalam hal2 yg tdk pernah kami kaji. Kalian bertanya ttg banyak hal yg aku ketahui, seandainya telah diajarkan kepada kami tentulah kami tdk akan menyembunyikannnya. Dari Umar bin Ishaq berkata : Aku tdk pernah melihat suatu kaum yg lebih mudah & gampang perilakunya daripada para sahabat rasuluLLAH SAW. Dari Ubaidah bin Yasar al-Kindi, ia ditanya ttg seorang wanita yg meninggal ditengah suatu kaum yg tdk memiliki wali, maka ia menjawab : Aku blm pernah melihat suatu kaum yg menyulit2kan diri seperti kalian & bertanya seperti pertanyaan kalian. Atsar2 ini diriwayatkan oleh Imam ad-Darami.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya ttg orang2 yg mengikuti ulama2 yg berbeda2 dlm masalah ijtihadiyyah apakah orang seperti itu harus diingkari & dihindari (bahkan ditahdzir)? Demikian pula orang yg memilih 1 pendapat diantara 2 pendapat? Maka jawab beliau rahimahuLLAH : ”Segala puji milik ALLAH, orang2 yg dlm masalah ijtihadiyyah memilih pendapat ulama tdk boleh dihindari atau diingkari. Demikian pula orang yg mengamalkan 1 pendapat dari 2 pendapat tdk boleh dikecam. Jk dlm suatu masalah terdapat 2 pendapat, maka bagi orang yg nampak baginya mana yg lebih kuat boleh beramal sesuai dengannya, tetapi jika tidak, maka ia boleh mengikuti sebagian ulama yg dapat dipercaya dlm menjelaskan mana yg lebih rajih diantara 2 pendapat tsb. WaLLAHu a’lam.

Lebih lanjut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, seorang alim yg mujahid ini menjelaskan : Seorang hakim tdk boleh membatalkan keputusan hakim yg lain, demikian pula seorang mufti tdk boleh membatalkan fatwa mufti lainnya & tdk boleh memaksa orang untuk mengikutinya dlm masalah2 ijtihadiyyah. Ketika Harun ar-Rasyid meminta Imam Malik untuk bersatu dlm mazhabnya (kitab Muwaththa’) maka Imam Malik menolaknya. Demikian pula ketika ada seorang ulama yg menyusun kitab ttg perbedaan pendapat & ingin menamakannya dg KITABUL-IKHTILAF (kitab ttg perbedaan pendapat), maka kata Imam Ahmad : jangan kamu namakan KITABUL -IKHTILAF tapi namakan KITABUS-SUNNAH (artinya Ikhtilaf itu menurutnya adalah Sunnah-pen). Oleh sebab itu sebagian ulama berpendapat : Ijma’ mereka (ulama) adalah hujjah, sedang ikhtilaf mereka adalah rahmat & kelapangan. Umar bin Abdul Aziz berkata : Aku TDK SUKA jk para sahabat ra itu tdk berbeda pendapat, karena jk mereka telah sepakat (ijma’) maka orang yg tdk sependapat dg mereka akan tertuduh sesat. Tp jk mereka berbeda pendapat maka itu merupakan keleluasaan. Oleh sebab itu seorang yg menyusun Amar Ma’ruf nahi Munkar dari mazhab Syafi’i berkata : Masalah2 ijtihadiyyah seperti ini tdk boleh diingkari dg tangan (kekerasan), tdk boleh seorangpun memaksa orang lain untk mengikutinya, tapi ia hanya dibolehkan berbicara ttg masalah ini dengan hujjah2 ilmiah. Siapa yg telah membuktikan keshahihan salah 1 dari 2 pendapat mk ia BOLEH mengikutinya, barangsiapa yg mengikuti pendapat lain, maka TDK BOLEH diingkari.” SELESAI kutipan dari Syaikhul Islam.

Imam Ibnul Qayyim dlm kitabnya I’lamul Muwaqqi’in berkata menceritakan sebuah atsar dari Umar ra : Umar ra pernah bertemu dg seseorang lalu Umar ra bertanya pdnya : ”Apa yg telah kamu lakukan (ttg suatu masalah)? Jawab orang itu : Ali bilang begini & Zaid bilang begitu. Umar ra berkata : Kalau aku, niscaya akan aku putuskan begini & begini. Orang itu lalu bertanya : Lalu apa yg menghalangimu (dr memutuskan berbeda)? Jawab Umar ra : kalau aku kembalikan kamu pd kitabuLLAH & sunnah nabi-NYA (jelas & tegas ada nash-nya) niscaya akan aku lakukan, tapi aku kembalikan kamu pd ijtihad, sedangkan pendapat itu bernilai sama.”

Fadhilatu Syaikh DR Yusuf al-Qaradhawy dlm kitabnya FIQH-IKHTILAF membahas dg lengkap sekali ttg tema2 ini, sebab2nya, cara menanggulanginya, dsb. Ana kutipkan diantara sebab2 terjadinya perbedaan ulama dlm masalah2 ijtihadiyyah ini sbb ;

1. Perbedaan dlm men-shahih-kan hadits. Banyak orang yg bertaqlid pd ulama sekarang atau masa lalu, padahal blm tentu penilaian mereka dlm masalah hadits tsb disepakati oleh ulama muhaddits lain. Perbedaan2 seperti ini sdh ada dr sejak dahulu sampai sekarang karena perbedaan mereka dlm syarat2 ke-shahih-an suatu hadits.
2. Ada muhaddits yg menerima penguatan hadits dha’if karena banyaknya riwayat yg serupa, sehingga menjadi hasan li-ghairihi, sementara ada pula yg tdk menerima pendapat ini.
3. Ada sebagian mereka yg berhujjah dg hadits mursal, tetapi sebagian lain tdk menerima hujjah dg hadits tsb, seperti hadits yg melarang wanita memakai perhiasan emas, sebagian men-shahih-kannya tp sebagian lain men-dha’if-kannya. Sebagian yg men-shahih-kan ada yg berpendapat bhw walaupun hadits itu shahih tapi mansukh (sdh dihapus hukumnya), sebagian ada yg menta’wilkannya karena telah adanya ijma’ ulama yg membolehkan wanita menggunakan emas.
4. Ada muhaddits yg bersepakat ttg ke-shahih-an suatu hadits, tp mereka berbeda pendapat ttg kandungannya, ada yg menyatakan bhw itu masalah syariat tp yg lain menyatakan bhw itu masalah keduniaan & kebiasaan, seperti hadits ttg berkhotbah dg menggunakan tongkat, makan pakai tangan, makan duduk di atas tanah, memakai celak mata, dsb.
5. Ada hadits yg disepakati ttg masalah syariat, tp para ulama berselisih apakah itu dlm kapasitas nabi SAW sbg rasul atau sbg pemimpin, seperti kata Ibnul Qayyim ttg hadits : Barangsiapa membunuh musuh dlm jihad, maka ia boleh mengambil barang yg melekat dibadannya.”
6. Mungkin suatu hadits menegaskan syariat umum & abadi, tp terjadi perbedaan dlm dilalahnya (penunjukannya), misalnya jk ia larangan apakah ia haram atau makruh saja, jk makruhpun apakah makruh tahrim atau makruh tanzih saja? Jk ia perintah apakah ia wajib atau sunnah, jk sunnah apakah ia mu’akkad atau ghairu mu’akkad?

Dst, ’ala kulli haal, tdk pada semua hal boleh terjadi ikhtilaf, sebagaimana tdk pada semua hal harus 1 pendapat. Kesimpulannya adalah sekali lagi jk pendapat tsb tdk disebutkan secara sharih (jelas) dlm kitab & sunnah, maka semua pendapat yg ada hanyalah berupa ijtihad yg yahtamilus shawab wal khatha’ (mengandung potensi benar & salah), maka sekali lagi jauhkanlah sikap mencoba berijtihad pd hal2 yg sudah jelas nash-nya, karena hal yg demikian adalah bathil & tertolak. Dan tafadhal berijtihad pd hal2 yg tdk disebutkan secara sharih (jelas) dlm nushush (al-Qur’an & as-Sunnah), sepanjang orang tsb beraqidah sesuai salafus-shalih, telah memenuhi syarat ijtihad & tdk bertentangan dg nash yg telah disepakati.

WaliLLAHil hamdu wal minah...

Abu AbduLLAH

0 komentar:

Posting Komentar

 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies