WEB BLOG
this site the web

KONSEP DASAR JARINGAN WAN

B. KEGIATAN BELAJAR
Kegiatan Belajar 1. Konsep Dasar Jaringan WAN
a. Tujuan Kegiatan Pemelajaran
Setelah mempelajari kegiatan belajar ini peserta diklat mampu menjelaskan
media, perangkat, teknologi dan protocol pada jaringan berbasis luas
(WAN).
b. Uraian Materi
1. Latar Belakang dan Sejarah Jaringan
Pada tahun 1940-an di Amerika ada sebuah penelitian yang ingin
memanfaatkan sebuah perangkat komputer secara bersama. Ditahun
1950-an ketika jenis komputer mulai membesar sampai terciptanya
super komputer, karena mahalnya harga perangkat komputer maka ada
tuntutan sebuah komputer mesti melayani beberapa terminal. Dari
sinilah maka muncul konsep distribusi proses berdasarkan waktu yang
dikenal dengan nama TSS (Time Sharing System), bentuk pertama kali
jaringan (network) komputer diaplikasikan. Pada sistem TSS beberapa
terminal terhubung secara seri ke sebuah host komputer.
Selanjutnya konsep ini berkembang menjadi proses distribusi
(Distributed Processing). Dalam proses ini beberapa host komputer
Gambar. 1
Modul NTW.OPR.200.(2).A 10
mengerjakan sebuah pekerjaan besar secara paralel untuk melayani
beberapa terminal yang tersambung secara seri disetiap host komputer.
Selanjutnya ketika harga-harga komputer kecil sudah mulai menurun
dan konsep proses distribusi sudah matang, maka penggunaan
komputer dan jaringannya sudah mulai beragam dari mulai menangani
proses bersama maupun komunikasi antar komputer (Peer to Peer
System) saja tanpa melalui komputer pusat. Untuk itu mulailah
berkembang teknologi jaringan lokal yang dikenal dengan sebutan LAN
(Local Area Network). Demikian pula ketika Internet mulai
diperkenalkan, maka sebagian besar LAN yang berdiri sendiri mulai
berhubungan dan terbentuklah jaringan raksasa ditingkat dunia yang
disebut dengan istilah WAN (Word Area Network).
2. Jenis-jenis jaringan
Secara umum jaringan komputer terdiri atas lima jenis:
a. Local Area Network (LAN)
Local Area Network (LAN), merupakan jaringan local yang
digunakan oleh suatu organisasi untuk berbagi sumber daya
Gambar. 2
Modul NTW.OPR.200.(2).A 11
(resources sharing) seperti printer dan file. LAN biasanya dibangun
dan dikelola oleh organisasi tersebut. Teknologi LAN antara lain
Ethernet, Token Ring dan FDDI.
b. Metropolitan Area Network (MAN)
Metropolitan Area Network (MAN), pada dasarnya merupakan versi
LAN yang berukuran lebih besar dan biasanya menggunakan
teknologi yang sama dengan LAN. MAN dapat mencakup kantorkantor
perusahaan yang letaknya berdekatan atau juga sebuah kota
dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan pribadi (swasta) atau
umum. MAN mampu menunjang data dan suara, bahkan dapat
berhubungan dengan jaringan televisi kabel.
c. Wide Area Network (WAN)
Wide Area Network (WAN), jangkauannya mencakup daerah
geografis yang luas, seringkali mencakup sebuah negara bahkan
benua. WAN memungkinkan terjadinya komunikasi diantara dua
perangkat yang terpisah jarak yang sangat jauh. WAN
menginterkoneksikan beberapa LAN yang kemudian menyediakan
akses ke komputer–komputer atau file server pada lokasi lain.
Beberapa teknologi WAN antara lain adalah Modem, ISDN, DSL,
Frame Relay, T1, E1, T3, E3 dan SONET.
d. Intranet
Melibatkan jaringan LAN dan Web Server yang terpasang pada
jaringan LAN tersebut. Web Server digunakan untuk melayani
permintaan pengguna internal suatu organisasi untuk menampilkan
data dan gambar. Intranet ini mempunyai sifat tertutup yang
berarti pengguna dari luar organisasi tidak dapat mengaksesnya.
e. Internet
Sebenarnya terdapat banyak jaringan di dunia ini, seringkali
menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak yang berbedabeda.
Orang yang terhubung ke jaringan sering berharap untuk bisa
berkomunikasi dengan orang lain yang terhubung ke jaringan
lainnya. Keinginan seperti ini memerlukan hubungan antar jaringan
Modul NTW.OPR.200.(2).A 12
yang seringkali tidak compatibel dan berbeda. Biasanya untuk
melakukan hal ini diperlukan sebuah mesin yang disebut gateway
guna melakukan hubungan dan melaksanakan terjemahan yang
diperlukan, baik perangkat keras maupun perangkat lunaknya.
Kumpulan jaringan yang terinterkoneksi inilah yang disebut dengan
internet.
Ketika sebuah perusahaan berkembang menjadi beberapa lokasi, maka
masing–masing lokasi mengembangkan jaringan lokalnya. Ketika
dibutuhkan koneksi antar LAN pada perusahaan tersebut maka
terbentuklah Wide Area Network.
3. Wide Area Network
Terdapat begitu banyak pilihan yang tersedia untuk
mengimplementasikan WAN yang bisa dibedakan berdasarkan
teknologi, kecepatan dan biaya yang dibutuhkan.
Satu perbedaan utama LAN dengan WAN adalah organisasi harus
berlangganan kepada penyedia jaringan dari perusahaan penyedia
jaringan yang ada.
Sebuah WAN menggunakan jalur data untuk membawa data menuju ke
internet dan menghubungkan lokasi–lokasi perusahaan yang terpisah–
pisah. Telepon dan layanan data yang paling banyak digunakan pada
WAN.
Perangkat pada pelanggan disebut CPE (Customer Premises
Equipment). Pelanggan memiliki sendiri atau menyewa dari service
provider. Kabel tembaga, serat optik atau wireless yang digunakan
untuk menghubungkan CPE ke sentral provider terdekat atau ke kantor
pusat dari service provider. Media ini sering disebut dengan local loop.
Modul NTW.OPR.200.(2).A 13
Perangkat yang meletakkan data ke local loop disebut DCE (Data
Circuit-terminating Equipment). Perangkat pelanggan yang melewatkan
data ke DCE disebut dengan DTE (Data Terminal Equipment).
Jalur WAN menyediakan berbagai macam kecepatan data yang diukur
dalam satuan kilobits per second. Dibawah ini berbagai teknologi WAN
dan kecepatan yang tersedia.
Gambar. 3
Gambar. 4
Modul NTW.OPR.200.(2).A 14
a. Perangkat WAN
WAN menghubungkan beberapa LAN melalui jalur komunikasi dari
service provider. Karena jalur komunikasi tidak bisa langsung
dimasukkan ke LAN maka diperlukan beberapa perangkat interface.
Perangkat–perangkat tersebut antara lain:
1) Router
LAN mengirimkan data ke Router, kemudian Router akan
menganalisa berdasarkan informasi alamat pada layer 3.
Kemudian Router akan meneruskan data tersebut ke interface
WAN yang sesuai berdasarkan routing table yang dimilikinya.
Router adalah perangkat jaringan yang aktif dan intelegent dan
dapat berpartisipasi dalam manajemen jaringan. Router mengatur
jaringan dengan menyediakan kontrol dinamis melalui sumber
daya dan mendukung tugas dan tujuan dari jaringan. Beberapa
tujuan tersebut antara lain konektivitas, perfomansi yang reliabel,
kontrol manajemen dan fleksibilitas.
2) CSU/DSU
Jalur komunikasi membutuhkan sinyal dengan format yang sesuai.
Untuk jalur digital, sebuah Channel Service Unit (CSU) dan Data
Service Unit (DSU) dibutuhkan. Keduanya sering digabung menjadi
sebuah perangkat yang disebut CSU/DSU.
Gambar. 5 Teknologi WAN dan Kecepatannya
Modul NTW.OPR.200.(2).A 15
3) Modem
Modem adalah sebuah perangkat dibutuhkan untuk
mempersiapkan data untuk transmisi melalui local loop. Modem
lebih dibutuhkan untuk jalur komunikasi analog dibandingkan
digital. Modem mengirim data melalui jalur telepon dengan
memodulasi dan demodulasi sinyal. Sinyal digital ditumpangkan
ke sinyal suara analog yang dimodulasi untuk ditransmisikan.
Pada sisi penerima sinyal analog dikembalikan menjadi sinyal
digital atau demodulasi.
4) Communication Server
Communication Server mengkonsentrasikan komunikasi pengguna
dial-in dan remote akses ke LAN. Communication Server memiliki
beberapa interface analog dan digital serta mampu melayani
beberapa user sekaligus.
b. Standar WAN
WAN menggunakan OSI layer tetapi hanya fokus pada layer 1 dan
2. Standar WAN pada umumnya menggambarkan baik metode
pengiriman layer 1 dan kebutuhan layer 2, termasuk alamat fisik,
aliran data dan enkapsulasi. Dibawah ini adalah organisasi yang
mengatur standar WAN.
Protokol layer 1 menjelaskan bagaimana menyediakan secara
elektris, mekanis, operasi dan fungsi koneksi yang disediakan oleh
Gambar. 6 Layer 1
Modul NTW.OPR.200.(2).A 16
service provider. Beberapa standar fisik dan konektornya
digambarkan dibawah ini.
Data link layer menjelaskan bagaimana data dienkapsulasi untuk
transmisi ke remote site, dan mekanisme untuk pengiriman yang
menghasilkan frame. Ada bermacam–macam teknologi yang
digunakan seperti ISDN, Frame Relay atau Asynchronous Transfer
Mode (ATM). Protokol ini menggunakan dasar mekanisme framing
Gambar. 7 Layer 2
Gambar. 8
Modul NTW.OPR.200.(2).A 17
132.96.11.0
toth
132.96.36.4
0:80:ad:a6:b6:65
anubis
132.96.36.5
0:80:ad:a7:a3:81
khnemu
132.96.12.7
0:40:95:11:2:b5
isis
132.96.12.8
0:80:ad:a7:96:f5
132.96.12.0
132.96.36.0
132.96.12.9
0:80:48:ea:35:9a
khensu
132.96.36.6
0:80:48:ea:35:10
seth
132.96.11.2
0:80:ad:17:96:34
osiris
132.96.11.1
0:80:48:e3:d2:69
132.96.11.3
0:20:4c:30:29:29
yang sama, yaitu High-Level Data Link Control (HDLC) atau satu
dari beberapa variannya seperti Point to Point Protocol.
4. Dasar–dasar Routing
a. Routing Lansung dan Tidak Langsung
Proses pengiriman datagram IP selalu menggunakan tabel routing.
Tabel routing berisi informasi yang diperlukan untuk menentukan ke
mana datagram harus di kirim. Datagram dapat dikirim langsung ke
host tujuan atau harus melalui host lain terlebih dahulu tergantung
pada tabel routing.
Gambar. 9
Gambar. 10
Modul NTW.OPR.200.(2).A 18
Gambar diatas memperlihatkan jaringan TCP/IP yang menggunakan
teknologi Ethernet. Pada jaringan tersebut host osiris mengirimkan data ke host
seth, alamat tujuan datagram adalah ip address host seth dan alamat sumber
datagram adalah ip address host osiris. Frame yang dikirimkan oleh host osiris
juga memiliki alamat tujuan frame MAC Address host Seth dan alamat sumbernya
adalah host osiris. Pada saat host osiris mengirimkan frame, host seth membaca
bahwa frame tersebut ditujukan kepada alamat ethernetnya. Setelah melepas
header frame, host seth kemudian mengetahui bahwa IP address tujuan datagram
tersebut juga adalah IP addressnya. Dengan demikian host seth meneruskan
datagram ke lapisan transport untuk diproses lebih lanjut. Komunikasi model
seperti ini disebut sebagai routing langsung.
Pada gambar diatas terlihat bahwa host osiris dan host anubis
terletak pada jaringan Ethernet yang berbeda. Kedua jaringan
tersebut dihubungkan oleh host khensu. Host khensu memiliki lebih
dari satu interface dan dapat melewatkan datagram dari satu
interface ke intreface lain (atau bertindak sebagai router). Ketika
mengirimkan data ke host anubis, osiris memeriksa tabel routing
dan mengetahui bahwa data tersebut harus melewati host khensu
terlebih dahulu. Dengan kondisi seperti ini datagram yang dikirim
host osiris ke host anubis memiliki alamat tujuan IP Address host
anubis dan alamat sumber IP Address host osiris tetapi frame
ethernet yang dikirimnya diberi alamat tujuan MAC Address host
khensu dan alamat sumber MAC Address host osiris.
132.96.11.2 132.96.11.1 132.96.11.3
IP Pengirim: 132.96.11.1
Ethernet Address:0:80:48:e3:d2:69
IP Target: 132.96.11.2
Ethernet Address:0:80:ad:17:96:34
Gambar. 11
Modul NTW.OPR.200.(2).A 19
Ketika host osiris mengirimkan frame ke jaringan, khensu membaca
bahwa alamat ethernet yang dituju frame tersebut adalah alamat
ethernetnya. Ketika host khensu melepas header frame, diketahui
bahwa host yang dituju oleh datagram adalah host anubis. Host
khensu kemudian memeriksa tabel routing yang dimilikinya untuk
meneruskan datagram tersebut. Dari hasil pemeriksaan tabel
routing, host khensu mengetahui bahwa host anubis terletak dalam
satu jaringan ethernet dengannya. Dengan demikian datagram
tersebut dapat langsung disampaikan oleh host khensu ke host
anubis. Pada pengiriman data tersebut, alamat tujuan dan sumber
datagram tetap IP Address host anubis dan host osiris tetapi alamat
tujuan dan sumber frame Ethernet menjadi MAC Address host
anubis dan host khensu. Komunikasi seperti ini disebut sebagai
routing tak langsung karena untuk mencapai host tujuan, datagram
harus melewati host lain yang bertidak sebagai router.
Pada dua kasus diatas terlihat proses yang terjadi pada lapisan
internet ketika mengirimkan dan menerima datagram. Pada saat
mengirimkan datagram, host harus memeriksa apakah alamat
132.96.11.1 132.96.11.2 132.96.11.3
IP pengirim: 132.96.11.1
Ethernet Address:0:80:48:e3:d2:69
IP target: 132.96.36.5
Ethernet Address:0:20:4c:30:29:29
132.96.36.4 132.96.36.5 132.96.36.6
IP pengirim: 132.96.11.1
Ethernet Address:0:80:48:ea:35:10
IP target: 132.96.36.5
Ethernet Address:0:80:ad:a7:a3:81
Gambar. 12
Modul NTW.OPR.200.(2).A 20
tujuan datagram terletak pada jaringan yang sama atau tidak. Jika
lamat tujuan datagram terletak pada jaringan yang sama , datagram
dapat langsung disampaikan. Jika ternyata alamat tujuan datagram
tidak terletak pada jaringan yang sama, datagram tersebut harus
disampaikan melalui host lain yang bertindak sebagai router. Pada
saat menerima datagram host harus memeriksa apakah ia
merukapakan tujuan dari datagram tersebut. Jika memang demikian
maka data diteruskan ke lapisan transport. Jika ia bukan tujuan dari
datagram tersebut, maka datagram tersebut dibuang. Jika host
yang menerima datagram tersebut sebuah router, maka ia
meneruskan datagram ke interface yang menuju alamat tujuan
datagram.
b. Jenis Konfigurasi Routing
Konfigurasi routing secara umum terdiri dari 3 macam yaitu:
1. Minimal Routing
Dari namanya dapat diketahui bahwa ini adalah konfigurasi yang
paling sederhana tapi mutlak diperlukan. Biasanya minimal
routing dipasang pada network yang terisolasi dari network lain
atau dengan kata lain hanya pemakaian lokal saja.
2. Static Routing
Konfigurasi routing jenis ini biasanya dibangun dalam network
yang hanya mempunyai beberapa gateway, umumnya tidak
lebih dari 2 atau 3. Static routing dibuat secara manual pada
masing-masing gateway. Jenis ini masih memungkinkan untuk
jaringan kecil dan stabil. Stabil dalam arti kata jarang down.
Jaringan yang tidak stabil yang dipasang static routing dapat
membuat kacau seluruh routing, karena tabel routing yang
diberikan oleh gateway tidak benar sehingga paket data yang
seharusnya tidak bisa diteruskan masih saja dicoba sehingga
menghabiskan bandwith. Terlebih menyusahkan lagi apabila
network semakin berkembang. Setiap penambahan sebuah
router, maka router yang telah ada sebelumnya harus diberikan
tabel routing tambahan secara manual. Jadi jelas, static routing
Modul NTW.OPR.200.(2).A 21
tidak mungkin dipakai untuk jaringan besar, karena membutuh
effort yang besar untuk mengupdatenya.
3. Dynamic Routing
Dalam sebuah network dimana terdapat jalur routing lebih dari
satu rute untuk mencapai tujuan yang sama biasanya
menggunakan dynamic routing. Dan juga selain itu network
besar yang terdapat lebih dari 3 gateway. Dengan dynamic
routing, tinggal menjalankan routing protokol yang dipilih dan
biarkan bekerja. Secara otomatis tabel routing yang terbaru
akan didapatkan.
Seperti dua sisi uang, dynamic routing selain menguntungkan
juga sedikit merugikan. Dynamic routing memerlukan routing
protokol untuk membuat tabel routing dan routing protokol ini
bisa memakan resource komputer.
c. Routing Protocol
Protokol routing merupakan aturan yang mempertukarkan informasi
routing yang nantinya akan membentuk tabel routing sedangkan
routing adalah aksi pengiriman-pengiriman paket data berdasarkan
tabel routing tadi.
Semua routing protokol bertujuan mencari rute tersingkat untuk
mencapai tujuan. Dan masing-masing protokol mempunyai cara dan
metodenya sendiri-sendiri. Secara garis besar, routing protokol
dibagi menjadi Interior Routing Protocol dan Exterior Routing
Protocol. Keduanya akan diterangkan sebagai berikut:
1. Interior Routing Protocol
Sesuai namanya, interior berarti bagian dalam. Dan interior
routing protocol digunakan dalam sebuah network yang
dinamakan autonomus systems (AS) . AS dapat diartikan sebagai
sebuah network (bisa besar atau pun kecil) yang berada dalam
satu kendali teknik. AS bisa terdiri dari beberapa sub network
yang masing-masingnya mempunyai gateway untuk saling
berhubungan. Interior routing protocol mempunyai beberapa
macam implemantasi protokol, yaitu:
- RIP (Routing Information Protocol)
Modul NTW.OPR.200.(2).A 22
Merupakan protokol routing yang paling umum dijumpai
karena biasanya sudah included dalam sebuah sistem
operasi, biasanya unix atau novell. RIP memakai metode
distance-vector algoritma. Algoritma ini bekerja dengan
menambahkan satu angka metrik kepada ruting apabila
melewati satu gateway. Satu kali data melewati satu gateway
maka angka metriknya bertambah satu (atau dengan kata
lain naik satu hop). RIP hanya bisa menangani 15 hop, jika
lebih maka host tujuan dianggap tidak dapat dijangkau.
Oleh karena alasan tadi maka RIP tidak mungkin untuk
diterapkan di sebuah AS yang besar. Selain itu RIP juga
mempunyai kekurangan dalam hal network masking. Namun
kabar baiknya, implementasi RIP tidak terlalu sulit ika
dibandingkan dengan OSPF yang akan diterangkan berikut
ini.
- OSPF (Open Shortest Path First)
Merupakan protokol routing yang kompleks dan memakan
resource komputer. Dengan protokol ini, route dapat dapat
dibagi menjadi beberapa jalan. Maksudnya untuk mencapai
host tujuan dimungkinkan untuk mecapainya melalui dua
atau lebih rute secara paralel.
Lebih jauh tentang RIP akan diterangkan lebih lanjut.
2. Exterior Protocol
AS merupakan sebuah network dengan sistem policy yang
pegang dalam satu pusat kendali. Internet terdiri dari ribuan AS
yang saling terhubung. Untuk bisa saling berhubungan antara
AS, maka tiap-tiap AS menggunakan exterior protocol untuk
pertukaran informasi routingnya. Informasi routing yang
dipertukarkan bernama reachability information (informasi
keterjangkauan). Tidak banyak router yang menjalankan routing
protokol ini. Hanya router utama dari sebuah AS yang
menjalankannya. Dan untuk terhubung ke internet setaip AS
Modul NTW.OPR.200.(2).A 23
harus mempunyai nomor sendiri. Protokol yang
mengimplementasikan exterior:
- EGP (Exterior Gateway Protocol)
Protokol ini mengumumkan ke AS lainnya tentang network
yang berada di bawahnya. Pengumumannya kira-kira
berbunyi:" Kalau hendak pergi ke AS nomor sekian dengan
nomor network sekian, maka silahkan melewati saya".
Router utama menerima routing dari router-router AS yang
lain tanpa mengevaluasinya. Maksudnya, rute untuk ke
sebuah AS bisa jadi lebih dari satu rute dan EGP menerima
semuanya tanpa mempertimbangkan rute terbaik.
- BGP (Border Gateway Protocol)
BGP sudah mempertimbangkan rute terbaik untuk dipilih.
Seperti EGP, BGP juga mepertukarkan reachability
information.
d. ARP
Untuk keperluan mapping IP address ke Alamat Ethernet maka di
buat protokol ARP (Address Resolution Protocol). Proses mapping ini
dilakukan hanya untuk datagram yaang dikirim host karena pada
saat inilah host menambahkan header Ethernet pada datagram.
Penerjemahan dari IP address ke alamat Ethernet dilakukan dengan
melihat sebuah tabel yang disebut sebagai cache ARP, lihat tabel 1.
Entri cache ARP berisi IP address host beserta alamat Ethernet
untuk host tersebut. Tabel ini diperlukan karena tidak ada hubungan
sama sekali antara IP address dengan alamat Ethernet. IP address
suatu host bergantung pada IP address jaringan tempat host
tersebut berada, sementara alamat Ethernet sebuah card
bergantung pada alamat yang diberikan oleh pembuatnya.
Tabel Cache ARP
IP address Alamat Ethernet
132.96.11.1 0:80:48:e3:d2:69
132.96.11.2 0:80:ad:17:96:34
132.96.11.3 0:20:4c:30:29:29
Modul NTW.OPR.200.(2).A 24
Mekanisme penterjemahan oleh ARP dapat dijelaskan sebagai
berikut. Misal suatu host A dengan IP address 132.96.11.1 baru
dinyalakan, lihat Gambar 1. Pada saat awal, host ini hanya
mengetahui informasi mengenai interface-nya sendiri, yaitu IP
address, alamat network, alamat broadcast dan alamat ethernet.
Dari informasi awal ini, host A tidak mengetahui alamat ethernet
host lain yang terletak satu network dengannya (cache ARP hanya
berisi satu entri, yaitu host A). Jika host memiliki route default,
maka entri yang pertama kali dicari oleh ARP adalah router default
tersebut.
Misalkan terdapat datagram IP dari host A yang ditujukan kepada
host B yang memiliki IP 132.96.11.2 (host B ini terletak satu subnet
dengan host A). Saat ini yang diketahui oleh host A adalah IP
address host B tetapi alamat ethernet B belum diketahui.
Agar dapat mengirimkan datagram ke host B, host A perlu mengisi
cache ARP dengan entri host B. Karena cache ARP tidak dapat
digunakan untuk menerjemahkan IP address host BB menjadi
alamat Ethernet, maka host A harus melakukan dua hal yaitu:
Mengirimkan paket ARP request pada seluruh host di network
menggunakan alamat broadcast Ethernet (FF:FF:FF:FF:FF:FF)
untuk meminta jawaban ARP dari host B, lihat gambar 2.
Menempatkan datagram IP yang hendak dikirim dalam antrian.
132.96.11.1
Alamat IP Alamat Ethernet
132.96.11.1 0:80:48:e3:d2:69
Gambar. 13
Gambar. 14
Modul NTW.OPR.200.(2).A 25
Paket ARP request yang dikirim host A kira-kira berbunyi “Jika IP
address-mu adalah 132.96.11.2, mohon beritahu alamat Ethernetmu”.
Karena paket ARP request dikirim ke alamat broadcast
Ethernet, setiap interface Ethernet komputer yang ada dalam satu
subnet (jaringan) dapat mendengarnya. Setiap host dalam jaringan
tersebut kemudian memeriksa apakah IP addressnya sama dengan
IP address yang diminta oleh host A.
Host B yang mengetahui bahwa yang diminta oleh host A adalah IP
address yang dimilikinya langsung memberikan jawaban dengan
mengirimkan paket ARP response langsung ke alamat ethernet
pengirim (host A), seperti terlihat pada gambar 3. Paket ARP
request tersebut kira-kira berbunyi “IP address 132.96.11.2 adalah
milik saya, sekarang saya berikan alamat ethernet saya”.
132.96.11.1 132.96.11.2 132.96.11.3
IP pengirim: 132.96.11.1
Ethernet Address:0:80:48:e3:d2:69
IP target: 132.96.11.2
Ethernet Address:0:80:ad:17:96:34
Gambar. 15
Modul NTW.OPR.200.(2).A 26
Paket ARP request dari host B tersebut diterima oleh host A dan
host A kemudian menambahkan entri IP addresss host B beserta
alamat Ethernet-nya ke dalam cache ARP, lihat gambar 4.
Saat ini host A telah memiliki entri untuk host B di tabel cache ARP, dengan
demikian datagram IP yang semula dimasukkan ke dalam antrian dapat diberi
header Ethernet dan dikirim ke host B.
Secara ringkas proses ARP adalah:
1. Host mengirimkan paket ARP request dengan alamat broadcast
Etehrnet.
2. Datagram IP yang dikirim dimasukkan ke dalam antrian.
3. Paket ARP respon diterima host dan host mengisi tabel ARP
dengan entri baru.
4. Datagram IP yang terletak dalam antrian diberi header Ethernet.
5. Host mengirimkan frame Ethernet ke jaringan.
132.96.11.1
Alamat IP Alamat Ethernet
0:80:48:e3:d2:69
0:80:ad:17:96:34
132.96.11.1
132.96.11.2
132.96.11.1 132.96.11.2 132.96.11.3
IP Target: 132.96.11.1
Ethernet Address:0:80:48:e3:d2:69
IP Pengirim: 132.96.11.2
Ethernet Address:0:80:ad:17:96:34
Gambar. 16
Gambar. 17
Modul NTW.OPR.200.(2).A 27
Setiap data ARP yang diperoleh disimpan dalam tabel cache ARP
dan cache ini diberi umur. Setiap umur entri tersebut terlampaui,
entri ARP dihapus dari tabel dan untuk mengisi tabel. Jika host akan
mengirimkan datagram ke host yang sudah dihapus dari cache ARP,
host kembali perlu melakukan langkah-langkah diatas. Dengan cara
ini dimungkinkan terjadinya perubahan isi cache ARP yang dapat
menunjukkan dinamika jaringan. Jika sebuat host di jaringan
dimatikan, maka selang beberapa saat kemudian entri ARP untuk
host tersebut dihapus karena kadaluarsa. Jika card ethernetnya
diganti, maka beberapa saat kemudian entri ARP host berubah
dengan informasi alamat ethernet yang baru.
5. Enkapsulasi HDLC (High-Level Data Link Control)
Pada umumnya, komunikasi serial berdasarkan protokol character
oriented. Protokol bit oriented lebih efisien tetapi mereka juga
proprietary. Pada tahun 1979, ISO menyetujui HDLC sebagai standar
untuk protokol bit oriented pada data link layer yang mengenkapsulasi
data pada synchronous serial data link. Sejak 1981, ITU-T telah
mengembangkan berbagai seri dari pengembangan HDLC. Beberapa
contoh dari protokol tersebut adalah:
- Link Access Procedure, Balanced ( LAPB ) untuk X.25
- Link Access Procedure on the D channel ( LAPD ) untuk ISDN
- Link Access Procedure for Modem ( LAPM ) dan PPP untuk modem
- Link Access for Frame Relay ( LAPF ) untuk Frame Relay.
HDLC menggunakan transmisi serial synchronous yang menyediakan
komunikasi bebas error diantara 2 titik. HDLC menjelaskan struktur
frame Layer 2 yang memperbolehkan flow control dan error control
menggunakan acknowledgment dan windowing scheme. Setiap frame
memiliki format yang sama, baik frame data atau control.
Pada router merk tertentu, HDLC yang digunakan merupakan
proprietary sendiri. HDLC menggunakan sebuah field proprietary. Field
ini memungkinkan beberapa network layer protocol untuk berbagi jalur
Modul NTW.OPR.200.(2).A 28
serial yang sama. HDLC merupakan default Layer 2 protokol untuk
interface serial.
HDLC mempunyai tiga tipe frame, dimana setiap frame memiliki format
yang berbeda yaitu:
- Information frame (I-frames), membawa data untuk dikirimkan.
Menambahkan flow dan error control, dimana data mungkin minta
dikirimkan ulang (piggyback).
- Supervisory frame (S-frames), menyediakan mekanisme request
dan respond ketika piggybacking tidak digunakan.
- Unnumbered frames (U-frames), menyediakan tambahan fungsi
pengontrolan jalur seperti setup koneksi dll.
Satu atau 2 bit pertama dari field control mengidentifikasikan tipe
frame. Pada field control dari I-frames, send-sequence number
menunjuk pada nomor frame yang dikirimkan selanjutnya. Receivesequence
number menunjukan nomer dari frame yang diterima
selanjutnya. Kedua pengirim dan penerima memelihara send dan
receive sequence number.
Gambar. 18
Modul NTW.OPR.200.(2).A 29
HDLC dapat digunakan untuk protokol point-to-point yang dapat
digunakan pada leased line diantara dua perangkat dengan merk
sejenis. Ketika berkomunikasi dengan perangkat dengan merk yang
berbera maka dapat menggunakan PPP.
6. Enkapsulasi PPP (Point to Point Protocol)
PPP menggunakan arsitektur berlapis. Arsitektur berlapis adalah model
logik, desain atau cetak biru yang membantu komunikasi diantara
lapisan interkoneksi. OSI model adalah arsitektur berlapis yang
digunakan pada jaringan. PPP menyediakan metode untuk
mengenkapsulasi multi-protocol datagram melalui jalur point-to-point
dan menggunakan lapisan data link untuk mengetes koneksi. PPP terdiri
dari dua sub-protocol yaitu:
- Link Control Protocol (LCP), digunakan untuk membangun jalur
point-to-point
- Network Control Protocol (NCP), digunakan untuk mengkonfigurasi
berbagai protokol network layer.
PPP dapat mengkonfigurasi berbagai tipe interface fisik yaitu:
- Asynchronous serial
- Synchronous serial
- High-Speed Serial Interface ( HSSI )
- ISDN
Gambar. 19
Modul NTW.OPR.200.(2).A 30
PPP menggunakan LCP untuk menegosiasikan dan pilihan kontrol setup
pada data link WAN. PPP menggunakan komponen NCP untuk
enkapsulasi dan pilihan negosiasi untuk berbagai protokol network
layer. LCP berada di atas physical layer dan digunakan untuk
membangun, mengkonfigurasi dan mengetes koneksi data link.
PPP juga menggunakan LCP untuk secara otomatis menyetujui pilihan
format enkapsulasi seperti dibawah ini:
- Authentication, pilihan otentikasi membutuhkan sisi pemanggil
untuk memasukkan informasi untuk membantu terpanggil
mendapatkan ijin sesuai setting network administrator jaringan
terpanggil. Ada dua pilihan otentikasi yaitu Password Authentication
Protocol (PAP) dan Challenge Handshake Authentication Protocol
(CHAP).
- Compression, pilihan kompresi meningkatkan efektifitas throughput
pada koneksi PPP dengan mengurangi sejumlah data pada frame
yang harus melalui jalur. Protokol akan medekompres frame pada
tujuan. Dua protokol kompresi yang tersedia adalah Stacker dan
Predictor.
- Error detection, mekanisme error detection dengan PPP
memungkinkan proses untuk mengidentifikasi kondisi.
- Multilink, CISCO IOS Release 11.1 dan sesudahnya mendukung PPP
multilink. Ini alternatif yang menyediakan load balance melalui
interface router dimana PPP digunakan.
- PPP Callback, untuk penangan keamanan di masa yang akan
datang. Dengan pilihan LCP, sebuah router dapat berperilaku
sebagai client callback atau sebagai server callback. Client
melakukan inisialisasi call, meminta agar bias di callback, dan
mengakhiri callback. Router callback menjawab inisialisasi call dan
melakukan panggilan jawaban ke client berdasarkan konfigurasinya.
LCP juga akan melakukan:
- Menangani berbagai batas dari ukuran paket
- Mendeteksi kesalahan konfigurasi yang umum
- Mengakhiri jalur
- Memastikan ketika jalur berfungsi baik atau ketika sedang rusak
Modul NTW.OPR.200.(2).A 31
PPP mengijinkan berbagai protokol network layer untuk beroperasi pada
jalur komunikasi yang sama. Untuk setiap protokol network layer yang
digunakan, disediakan NCP yang berbeda. Sebagai contoh, Internet
Protocol (IP) menggunakan IP Control Protocol (IPCP), dan
Internetwork Packet Exchange (IPX) menggunakan Novell IPX Control
Protocol (IPXCP). NCP termasuk field–field functional yang berisi kode
standar untuk mengidentifikasi protokol network layer yang digunakan.
Field pada frame PPP adalah sebagai berikut:
- Flag, mengidentifikasi awal atau akhir frame dan konsisten berisi
urutan biner 01111110.
- Address, berisi broadcast address standar, dimana urutan biner
11111111. PPP tidak memberikan alamat individu untuk setiap
station.
- Control, 1 byte yang berisi urutan biner 00000011, dimana
panggilan untuk transmisi data user tidak berurut.
- Protocol, 2 byte yang mengidentifikasi protokol yang di enkapsulasi
data field data pada frame.
- Data, 0 atau lebih byte yang berisi datagram untuk protokol yang
dispesifikasikan pada field protocol. Akhir field data dapat
ditemukan dengan lokasi dari urutan flag penutup. Maksimum
panjang field default adalah 1.500 byte.
- FCS, normalnya 16 bit atau 2 byte yang menunjukkan karakter extra
yang ditambahkan pada frame untuk fungsi error control.
Membangun sesi PPP melalui tiga fase. Fase tersebut adalah
pembangunan jalur, authentikasi dan fase network layer. Frame LCP
Gambar. 20
Modul NTW.OPR.200.(2).A 32
digunakan untuk memastikan kerja setiap LCP fase. Tiga kelas dari LCP
frame yang digunakan untuk PPP adalah:
- Frame Pembangunan Jalur digunakan untuk membangun dan
mengkonfigurasi jalur.
- Frame Terminasi Jalur digunakan untuk mengakhiri jalur.
- Frame Pemeliharaan Jalur digunakan untuk mengatur dan
melakukan debug terhadap jalur.
Tiga sesi pembangunan PPP adalah:
- Fase Pembangunan Jalur, pada fase ini perangkat PPP mengirim LCP
frame untuk mengkonfigurasi dan mengetes jalur data. Frame LCP
berisi configuration option field yang memungkinkan perangkat
untuk menegosiasikan pilihan yang digunakan seperti maksimum
transmission unit (MTU), kompresi dari beberapa field PP dan
protokol otentikasi field. Jika sebuah pilihan konfigurasi tidak
termasuk dalam paket LCP, nilai default untuk konfigurasi tersebut
yang digunakan. Sebelum beberapa paket network layer dapat
dikirimkan, LCP pertama–tama harus membuka koneksi dan
menegosiasikan parameter konfigurasi. Fase ini selesai ketika
sebuah frame configuration acknowledgment telah dikirim dan
diterima.
- Fase Authentication ( boleh ada boleh tidak), setelah jalur dibangun
dan protokol otentikasi diputuskan, maka melakukan proses
otentikasi. Otentikasi jika digunakan mengambil tempat sebelum
memasuki fase protokol network layer. Sebagai bagian dari fase ini,
LCP juga memperbolehkan sebuah pilihan untuk memastikan
kualitas jalur. Link ini di tes untuk memastikan kualitas jalur apakah
cukup baik untuk membawa data protokol network layer.
- Fase Protokol Network Layer, pada fase ini perangkat PPP mengirim
paket NCP untuk memilih dan mengkonfigurasi satu atau lebih
protokol network layer seperti IP. Setiap protokol network layer
yang telah dikonfigurasi, satu paket dari setiap network layer dapat
dikirimkan melalui jalur. Jika LCP menutup jalur, hal tersebu
diinformasikan ke protokol network layer sehingga mampu
Modul NTW.OPR.200.(2).A 33
melakukan aksi yang sesuai. Perintah show interface
menunjukkan kondisi LCP dan NCP dalam konfigurasi PPP.
Jalur PPP meninggalkan konfigurasi untuk komunikasi jalur sampai
frame LCP atau NCP menutup jalur atau sampai timer inactivity habis
untuk mengintervensi pengguna.
Pilihan otentikasi membutuhkan sisi pemanggil dari jalur memasuki
informasi otentikasi. Hal ini membantu untuk memastikan pengguna
memiliki ijin dari network administrator untuk membuat panggilan.
Ketika mengkonfigurasi otentikasi PPP, network administrator dapat
memilih Password Authentication Protocol (PAP) atau Challenge
Handshake Authentication Protocol (CHAP). Umumnya CHAP lebih
sering digunakan.
PAP menyediakan metode sederhana untuk meremote node untuk
mengidentifikasi pembangunan, menggunakan two way handshake.
Setelah jalur PPP dibangun, username/password secara terus menerus
dikirim dari node tujuan melalui jalur sampai otentikasi telah disetujui
atau koneksi diakhiri.
PAP bukan merupakan protokol yang kuat. Password dikirim melalui
jalur dengan bentuk clear text dan tidak ada proteksi. Remote node
yang akan mengontrol frekuensi dan waktu dari masuknya login.
CHAP digunakan pada startup jalur dan secara periodic di verifikasi
untuk mengidentifikasi remote node menggunakan three-way
Gambar. 21
Modul NTW.OPR.200.(2).A 34
handshake. CHAP menampilkan pembangunan jalur dan diulang
selama jalur dibangun.
Setelah fase pembangunan jalur PPP selesai, router local mengirim
sebuah pesan “challenge” ke remote node. Remote node merespon
dengan nilai yang dikalkulasi menggunakan fungsi one-way hash,
dimana umumnya Message Diggest 5 (MD5). Responsenya berdasarkan
password dan pesan challenge. Lokal router akan mengecek respon
dengan kalkulasi miliknya sendiri dengan nilai hash yang diharapkan.
Jika nilai sesuai, otentikasi di setujui, sebaliknya koneksinya akan
segera diakhiri.
CHAP menyediakan proteksi melawan serangan playback melalui
penggunaan berbagai nilai challenge yang unik dan tidak dapat
diprediksi. Jika challenge unik dan acak, maka nilai hasil hash juga akan
unik dan acak. Penggunaaan challenge yang diulang–ulang akan
meningkatkan waktu untuk sebuah serangan. Router local atau server
otentikasi pihak ketiga yang akan mengontrol frekuensi dan waktu
challenge.
Gambar. 22
Modul NTW.OPR.200.(2).A 35
c. Rangkuman
1. JARINGAN komputer adalah kumpulan komputer, printer dan peralatan
lainnya yang terhubung dalam satu kesatuan. Informasi dan data
bergerak melalui kabel-kabel atau tanpa kabel sehingga memungkinkan
pengguna jaringan komputer dapat saling bertukar dokumen dan data,
mencetak pada printer yang sama dan bersama-sama menggunakan
hardware/software yang terhubung dalam jaringan.
2. Ada lima jenis jaringan komputer, Local Area Network (LAN),
Metropolitan Area Network (MAN), Wide Area Network (WAN), Intranet
dan Internet.
3. Perangkat yang meletakkan data ke local loop disebut DCE (Data
Circuit-terminating Equipment). Perangkat pelanggan yang melewatkan
data ke DCE disebut dengan DTE (Data Terminal Equipment).
4. Perangkat WAN adalah Router, CSU/DSU, Modem dan Communication
Server.
5. Ada dua jenis routing yaitu routing langsung dan tidak langsung.
6. Ada 3 jenis konfigurasi routing yaitu minimal routing, static routing dan
dynamic routing.
7. Routing Protocol ada 2 jenis yaitu Interior Routing Protocol dan Exterior
Routing Protocol.
d. Tugas
1. Pelajarilah uraian materi tentang konsep dasar jaringan WAN ini dengan
baik. Buatlah rangkuman dari materi tersebut, diskusikan dengan teman
anda!
2. Masuklah ke LAB komputer di sekolah anda. Lakukan pengamatan
terhadap jaringan LAN yang sudah ada. Amati dan catat: teknologi
WAN dan tipe enkapsulasi yang digunakan. Jelaskan!
3. Gambar dan jelaskan struktur dari PPP!
4. Jelaskan tentang proses autentikasi PPP!
5. Sebutkan sub protocol dari PPP dan jelaskan masing–masing sub
protocol tersebut!
Modul NTW.OPR.200.(2).A 36
e. Test Formatif
1. Apa yang dimaksud dengan WAN?
2. Jelaskan yang dimaksud dengan modem?
3. Sebutkan protokol–protokol pengembangan dari HDLC!
4. Sebutkan dan jelaskan tipe–tipe frame dari HDLC!
Modul NTW.OPR.200.(2).A 37
f. Kunci Jawaban Test Formatif
1. Wide Area Network (WAN), jangkauannya mencakup daerah geografis
yang luas, seringkali mencakup sebuah negara bahkan benua. WAN
memungkinkan terjadinya komunikasi diantara dua perangkat yang
terpisah jarak yang sangat jauh. WAN menginterkoneksikan beberapa
LAN yang kemudian menyediakan akses ke komputer–komputer atau
file server pada lokasi lain. Beberapa teknologi WAN antara lain adalah
Modem, ISDN, DSL, Frame Relay, T1, E1, T3, E3 dan SONET.
2. Modem adalah sebuah perangkat dibutuhkan untuk mempersiapkan
data untuk transmisi melalui local loop. Modem lebih dibutuhkan untuk
jalur komunikasi analog dibandingkan digital. Modem mengirim data
melalui jalur telepon dengan memodulasi dan demodulasi sinyal. Sinyal
digital ditumpangkan ke sinyal suara analog yang dimodulasi untuk
ditransmisikan. Pada sisi penerima sinyal analog dikembalikan menjadi
sinyal digital atau demodulasi.
3. Protokol–protokol pengembangan dari HDLC adalah:
- Link Access Procedure, Balanced (LAPB) untuk X.25
- Link Access Procedure on the D channel (LAPD) untuk ISDN
- Link Access Procedure for Modem (LAPM) dan PPP untuk modem
- Link Access for Frame Relay (LAPF) untuk Frame Relay
4. HDLC mempunyai tiga tipe frame, dimana setiap frame memiliki format
yang berbeda yaitu:
- Information frame (I-frames), membawa data untuk dikirimkan.
Menambahkan flow dan error control, dimana data mungkin minta
dikirimkan ulang (piggyback).
- Supervisory frame (S-frames), menyediakan mekanisme request
dan respond ketika piggybacking tidak digunakan.
- Unnumbered frames (U-frames), menyediakan tambahan fungsi
pengontrolan jalur seperti setup koneksi dll
5. PPP terdiri dari dua sub-protocol yaitu:
- Link Control Protocol (LCP), digunakan untuk membangun jalur
point-to-point
- Network Control Protocol (NCP), digunakan untuk mengkonfigurasi
berbagai protokol network layer
Modul NTW.OPR.200.(2).A 38
g. Lembar Kerja
Alat dan bahan:
1) Pensil/ball point ............................................. 1 buah
2) Rapido (0,2, 0,4, dan 0.8) .............................. 1 buah
3) Penghapus ..................................................... 1 buah
4) Kertas gambar manila A3 ............................... 1 lembar
5) Kertas folio...................................................... secukupnya
Kesehatan dan Keselamatan Kerja
1. Berdo’alah sebelum memulai kegiatan belajar.
2. Bacalah dan pahami petunjuk praktikum pada setiap lembar kegiatan
belajar.
3. Menjaga kebersihan gambar yang akan dibuat dan lingkungan
sekitarnya.
4. Menjaga kebersihan dan kerapian lembar kerja yang lain (kertas folio).
5. Meletakkan peralatan pada tempatnya.
Lembar Kerja
a. Persiapkan alat dan bahan yang akan dibutuhkan!
b. Rekatkanlah kertas gambar dengan isolasi pada sudut kertas gambar!
c. Buatlah garis tepi!
d. Buatlah sudut keterangan gambar (stucklyst)!
e. Buatlah gambar koneksi WAN sekolah atau ICT Center atau WAN kota
terdekat dari anda!
f. Lakukan proses pembuatan gambar tersebut dengan baik dan benar
(secara konvensional)!
g. Setelah selesai laporkan hasil kerja anda, dan kembalikan semua alat
dan bahan ke tempat semula!
Modul NTW.OPR.200.(2).A 39
Kegiatan Belajar 2. Instalasi Perangkat Keras WAN
a. Tujuan Kegiatan Pemelajaran
Setelah mempelajari kegiatan belajar ini peserta diklat mampu menjelaskan
instalasi perangkat keras Wide Area Network.
b. Uraian materi
1. Router
Sebenarnya tidak ada arsitektur yang eksak dari sebuah router karena
berbeda-beda tergantung merek dan jenisnya. Dibawah ini adalah
gambar arsitektur router dari merek Cisco.
Gambar. 22
Modul NTW.OPR.200.(2).A 40
Komponen-komponen dari Router adalah:
a. CPU, Central Processing Unit mengeksekusi instruksi pada Operating
System. Fungsi yang lain adalah inisialisasi sistem, fungsi routing
dan mengontrol network interface. Router yang besar memiliki
beberapa CPU.
b. RAM, Random Access Memory digunakan untuk informasi routing
table, fast switching cache, running configuration dan packet
queque. RAM biasanya dibagi dua secara logik yaitu memori
processor utama dan memory shared input/output (I/O). Memory
shared I/O adalah berbagi antara berbagai interface I/O untuk
menyimpan paket secara sementara. Isi RAM akan hilang begitu
power dari Router dimatikan.
c. Flash, digunakan untuk menyimpan keseluruhan IOS
(Internetworking Operating System) software image. Router
umumnya mencari operating system pada flash. IOS dapat
diupgrade dengan mengisi IOS baru pada flash. IOS mungkin
berbentuk compressed atau uncompressed.
Gambar. 23
Modul NTW.OPR.200.(2).A 41
d. NVRAM, Nonvolatile Random Access Memory (NVRAM) digunakan
untuk menyimpan startup configuration. Di beberapa perangkat
NVRAM diimplementasikan menggunakan EEPROM yang terpisah
dari perangkat tersebut.
e. Bus, kebanyakan router berisi sebuah system bus dan CPU bus.
System bus digunakan untuk komunikasi diantara CPU dan
interface. System bus mengirimkan data dari dan ke interface. CPU
bus digunakan oleh CPU untuk mengakses komponen dari media
penyimpan router.
f. ROM, Read Only Memory digunakan untuk menyimpan permanen
startup diagnostic code (ROM Monitor). Tugas utama untuk ROM
adalah diagnosa hardware selama router melakukan bootup dan
memindahkan software IOS dari Flash ke RAM.
g. Interface adalah koneksi router keluar. Ada tiga tipe interface yaitu
Local Area Network (LAN), Wide Area Network (WAN) dan
Management. Interface LAN biasanya berupa salah satu dari jenis
Ethernet atau Token Ring. Interface WAN termasuk serial, ISDN
dan integrated Channel Service Unit (CSU). Management port berisi
port Console dan AUX adalah port serial yang digunakan untuk
menghubungkan router dengan administrator. Port ini bukan
merupakan port jaringan. Port ini menggunakan aplikasi tertentu
yang dijalankan pada sebuah komputer yang dihubungkan melalui
port komunikasi pada komputer atau menggunakan modem.
Modul NTW.OPR.200.(2).A 42
h. Power Supply, menyediakan power yang dibutuhkan untuk
mengoperasikan komponen internal.
2. Koneksi Komputer atau Terminal Console ke Router
Port Console atau AUX adalah port manajemen. Port tersebut adalah
port serial asynchronous yang tidak didesain sebagai port jaringan.
Satu dari kedua port tersebut dibutuhkan untuk melakukan konfigurasi
router. Port Console dianjurkan untuk konfigurasi awal karena tidak
semua router mempunyai port AUX.
Gambar. 24
Modul NTW.OPR.200.(2).A 43
Ketika router pertama kali dijalankan, belum ada parameter jaringan
yang dimasukkan. Oleh karena itu router tidak dapat berkomunikasi
satu sama lain dengan perangkat jaringan lainnya. Untuk menyiapkan
konfigurasi awal pasangkanlah pada komputer atau terminal RS-232
ASCII ke port console pada router. Kemudian masukkan perintah
konfigurasi kedalamnya.
Satu kali konfigurasi tersimpan pada router maka router sudah dapat
berkomunikasi dengan perangkat lainnya. Gunakan komputer atau
terminal tersebut untuk melakukan perbaikan atau monitoring jaringan.
Router juga dapat dikonfigurasi dari jarak jauh dengan melakukan
koneksi melalui modem yang dihubungkan ke port Auxiliary. Kemudian
modem dihubungkan ke jalur telepon. Administrator dapat melakukan
koneksi melalui komputer yang terhubung ke modem menuju router
tersebut.
Gambar. 25
Modul NTW.OPR.200.(2).A 44
Kemudian konfigurasikan software terminal emulation (contohnya
Hyperterminal) pada PC untuk:
- Port serial (com) yang sesuai.
- 9600 baud
- 8 data bits
- No Parity
- 1 stop bit
- No flow control
3. Koneksi ke Interface LAN
Pada jaringan LAN biasanya menggunakan interface Ethernet atau Fast
Ethernet. Interface Ethernet tersebut dihubungkan ke switch
menggunakan kabel straight through. Jika langsung ke komputer dapat
menggunakan kabel cross over.
Gambar. 26
Modul NTW.OPR.200.(2).A 45
4. WAN Physical Layer
Implementasi Physical Layer berbeda–beda tergantung pada layanan,
kecepatan dan tipe dari layanan itu sendiri. Koneksi serial digunakan
untuk mendukung layanan WAN seperti dedicated leased line yang
menjalankan Point to Point Protocol (PPP) atau Frame Relay.
Kecepatan koneksi tersebut berkisar dari 2400 bps sampai dengan
layanan T1 pada kecepatan 1,544 Mbps dan layanan E1 pada
kecepatan 2,048 Mbps.
ISDN menawarkan koneksi dial-on-demand atau layanan backup
menggunakan dialup. Pada ISDN Basic Rate Interface (BRI) adalah
gabungan dua buah 64 kbps bearer channel (B channel) untuk data dan
satu delta channel (D channel) pada kecepatan 16 kbps yang digunakan
untuk persinyalan dan tugas manajemen jalur lainnya. PPP biasanya
digunakan untuk membawa data melalui B channel.
Dengan meningkatnya kebutuhan layanan broadband kecepatan tinggi
untuk perumahan, Digital Subscriber Line (DSL) dan kabel model
menjadi lebih populer. Untuk contoh, pelanggan DSL rumah bisa
mendapatkan kecepatan T1/E1 melalui jalur telepon yang ada.
Layanan kabel modem menggunakan kabel televisi coaxial yang ada.
Gambar. 27
Modul NTW.OPR.200.(2).A 46
Jalur kabel coaxial menyediakan koneksi kecepatan tinggi yang
menyamai bahkan melebihi DSL.
5. WAN Serial
Untuk komunikasi jarak jauh, WAN menggunakan transmisi serial. Ini
adalah proses dimana bit dari data dikirimkan melalui satu channel.
Proses ini menyediakan komunikasi jarak jauh yang lebih reliabel dan
menggunakan spesifikasi elektromagnetik atau range frekuensi optikal
yang khusus.
Router bertanggung jawab untuk meroutekan paket data dari sumber
ke tujuan didalam LAN dan menyediakan koneksi ke WAN. Sebagai
tambahan untuk menentukan tipe kabel, diperlukan untuk memastikan
apakah kabel DTE atau kabel DCE yang dibutuhkan. DTE adalah
endpoint dari perangkat user pada jalur WAN. DCE biasanya titik yang
bertanggung jawab untuk mengirimkan data menuju ke tangan service
provider.
Gambar. 28
Modul NTW.OPR.200.(2).A 47
Jika koneksi dibuat langsung ke penyedia layanan, atau ke perangkat
yang menyediakan sinyal clocking seperti CSU/DSU, router akan
menjadi perangkat DTE dan menggunakan kabel DTE. Bagaimanapun,
adakalanya router dibutuhkan untuk menyediakan kecepatan clock dan
router tersebut menggunakan kabel DCE.
Pada sisi router juga dibutuhkan port yang sesuai dengan tipe kabel
dan konektor yang digunakan. Port tersebut bisa berupa port yang
tetap atau modular. Tipe port yang digunakan akan mempengaruhi
sintaks yang digunakan untuk mengkonfigurasi router. Interface pada
port serial yang tetap akan dilabeli dengan tipe port dan nomor port.
Gambar. 29
Gambar. 30
Modul NTW.OPR.200.(2).A 48
Interface pada router dengan port serial modular dilabeli untuk tipe
port, slot dan lokasi dari modul. Untuk mengkonfigurasi port pada card
modular, dibutuhkan untuk mengspesifikasi interface menggunakan
sintaks “tipe port nomor slot/nomor port”.
Untuk koneksi ke ADSL dibutuhkan interface Asymmetric Digital
Subscriber Liner (ADSL). Untuk menghubungkan jalur ADSL ke port
pada router, lakukan langkah–langkah sebagai berikut:
koneksikan kabel telepon ke port ADSL pada router
koneksikan ujung yang lain pada jack telepon.
Gambar. 31
Modul NTW.OPR.200.(2).A 49
Untuk menghubungkan router ke layanan DSL, gunakan kabel telepon
dengan jack RJ-11. DSL bekerja melalui standar line telepon
menggunakan pin 3 dan 4 pada standar konektor RJ-11.
Untuk menghubungkan router ke layanan kabel modem diperlukan
interface khusus yang memiliki konektor F untuk kabel coaxial. Kabel
coaxial dan konektor BNC digunakan untuk menghubungkan router dan
layanan kabel modem.
Lakukan langkah–langkah dibawah ini untuk menghubungkan router ke
layanan kabel modem:
Pastikan router tidak terhubung ke power.
Carilah kabel coaxial RF pada wall outlet untuk TV kabel.
Instal cable splitter/directional coupler, jika dibutuhkan, untuk
memisahkan sinyal untuk TV dan untuk komputer. Jika dibutuhkan,
instal juga high-pass filter untuk mencegah interferensi antara sinyal
TV dan komputer.
Hubungkan kabel coaxial ke konektor F pada router. Kencangkan
konektor dengan memutar searah jarum jam.
Gambar. 32
Modul NTW.OPR.200.(2).A 50
c. Rangkuman
1. Komponen dari router adalah CPU, RAM, Flash, NVRAM, Bus, ROM,
Interface dan Power Supply.
2. Port yang digunakan untuk koneksi komputer atau terminal console ke
router adalah console dan aux.
3. Koneksi router ke switch menggunakan kabel straight through,
sedangkan langsung ke komputer menggunakan kabel cross over.
4. Koneksi yang dibuat langsung ke penyedia layanan, atau ke perangkat
yang menyediakan sinyal clocking seperti CSU/DSU, router akan
menjadi perangkat DTE dan menggunakan kabel DTE.
5. Interface pada router dengan port serial modular dilabeli untuk tipe
port, slot dan lokasi dari modul.
d. Tugas
1. Pelajarilah uraian materi tentang konsep dasar jaringan WAN ini dengan
baik. Buatlah rangkuman dari materi tersebut, diskusikan dengan teman
anda!
2. Gambarkan koneksi komputer atau terminal console ke router!
3. Gambarkan back panel dari router yang anda ketahui!
Gambar. 33
Modul NTW.OPR.200.(2).A 51
e. Tes Formatif
1. Sebutkan 2 jenis router secara umum dan sebutkan perbedaanya!
2. Sebutkan fungsi dari CPU pada router!
3. Sebutkan konfigurasi untuk software terminal emulation hyperterminal
agar dapat berkomunikasi dengan router!
4. Sebutkan manajemen port yang disediakan oleh router!
5. Jelaskan langkah-langkah menghubungkan jalur ADSL ke port router!
Modul NTW.OPR.200.(2).A 52
f. Kunci Jawaban Test Formatif
1. ada dua jenis router: router pabrikan contoh: cisco, mikrotik, dan router
PC contoh: mikrotik, freesco, dll. Perbedaanya terletak dari sistem
operasi yang dipakai, bentuk fisik dan sistem konfigurasinya.
2. Central Processing Unit mengeksekusi instruksi pada Operating System.
Fungsi yang lain adalah inisialisasi sistem, fungsi routing dan
mengontrol network interface.
3. Konfigurasi software terminal emulation adalah sebagai berikut:
•Port serial (com) yang sesuai.
•9600 baud
•8 data bits
•No Parity
•1 stop bit
•No flow control
4. Manajemen port yang disediakan adalah console dan aux.
5. Untuk menghubungkan jalur ADSL ke port pada router, lakukan
langkah–langkah sebagai berikut:
•Koneksikan kabel telepon ke port ADSL pada router
•Koneksikan ujung yang lain pada jack telepon
g. Lembar Kerja
Alat dan bahan:
1. Pensil/ball point .......................................... 1 buah
2. Penghapus ................................................... 1 buah
3. Kertas folio ................................................... secukupnya
4. Komputer (termasuk NIC).............................. 5 unit
5. Router .......................................................... 3 unit
6. Server .......................................................... 1 unit
7. Hub.............................................................. 2 unit
8. Switch .......................................................... 1 unit
Modul NTW.OPR.200.(2).A 53
9. Kabel DCE .................................................... 3 buah
10. Kabel DTE..................................................... 3 buah
11. Kabel Straight Through.................................. 9 buah
Kesehatan dan Keselamatan Kerja
1. Berdo’alah sebelum memulai kegiatan belajar.
2. Bacalah dan pahami petunjuk praktikum pada setiap lembar kegiatan
belajar.
3. Hati–hati ketika membuka/menutup casing router.
Lembar Kerja
1. Amati jenis kabel dan konektor yang router dengan jaringan WAN
yang ada pada sekolah anda!
2. Bukalah dengan hati-hati casing router dan amatilah komponen yang
terdapat didalamnya. Catat masing-masing komponen dan jelaskan
fungsinya!
3. Buatlah jaringan yang merupakan simulasi dari jaringan WAN seperti
gambar dibawah ini!
4. Periksakan hasil kerja anda pada instruktur!
5. Kembalikan seluruh peralatan pada tempatnya!
Gambar. 34
Modul NTW.OPR.200.(2).A 54
Kegiatan Belajar 3. Mengatur Perangkat Menggunakan
Software
a. Tujuan Pemelajaran
Setelah mempelajari kegiatan belajar ini peserta diklat mampu menjelaskan
pengaturan perangkat menggunakan software.
b. Uraian materi
1. CLI Command Mode
CLI (Command-Line interface) adalah suatu interface dari user ke
router menggunakan perintah berbasis teks. CLI menggunakan struktur
berhirarki. Struktur ini membutuhkan user untuk memasuki suatu
mode tertentu untuk menjalankan suatu perintah. Perintah–perintah
dalam CLI hanya berlaku untuk satu mode saja, sehingga apabila user
tidak dalam kondisi mode tersebut maka user tidak dapat memberikan
perintah tersebut ke router.
Gambar. 34
Modul NTW.OPR.200.(2).A 55
Administrator memberikan perintah ke router melalui software terminal
emulation (hyperterminal). Perintah tersebut dilakukan sesuai dengan
prompt yang menandakan pada mode mana router sedang bekerja.
IOS menyediakan sebuah command intepreter yang disebut command
executive (EXEC). Setelah perintah EXEC ini dimasukkan, EXEC akan
mengvalidasi dan menjalankan perintah.
Untuk memberikan keamanan, EXEC dibagi menjadi dua level. Level
tersebut adalah user EXEC mode dan privileged mode.
User EXEC mode memperbolehkan hanya beberapa perintah
monitoring terbatas. Sering disebut mode “view only”. User mode
tidak memperbolehkan perintah apapun yang dapat mengganti
konfigurasi router. User mode dapat diidentifikasi dengan prompt
“>”.
Privileged EXEC mode mampu mengakses seluruh perintah router.
Mode ini dapat dikonfigurasi untuk membutuhkan password ketika
user akan mencoba mengaksesnya. Global configuration mode dan
mode lainnya dapat diakses setelah user mengakses mode ini.
Gambar. 35
Modul NTW.OPR.200.(2).A 56
Untuk mengakses privileged exec mode dari user exec mode
menggunakan perintah “enable”, untuk sebaliknya menggunakan
perintah “disable”.
Global configuration mode digunakan pada router untuk
mengaplikasikan perintah konfigurasi yang berefek pada keseluruhan
router. Perintah berikut ini memindahkan dari mode privileged ke
global configuration mode.
Router#configure terminal
Router(config)#
Dari global configuration mode dapat masuk ke menu configuration
yang lain. Ketika mode specific dimasuki, prompt pada router akan
berubah yang mengindikasikan mode configuration yang sekarang
berjalan. Untuk kembali ke global configuration mode ketiklah
perintah “exit”. Tekanlah Ctrl+Z untuk keluar dari configuration mode
dan kembali ke privileged mode.
Gambar. 36
Modul NTW.OPR.200.(2).A 57
2. Mengkonfigurasi Nama Router
Ketika pertama dikonfigurasi, router harus diberi nama yang unik.
Tugas ini dapat dilakukan pada global configuration mode. Perintahnya
adalah sebagai berikut
Router(config)#hostname
3. Mengkonfigurasi Password Router
Password membatasi akses ke router. Password seharusnya
dikonfigurasi untuk jalur virtual terminal (melalui telnet) dan console.
Password juga digunakan untuk membatasi akses ke privileged mode
sehingga hanya user yang berhak saja yang dapat mengaksesnya.
Perintah dibawah ini digunakan untuk memberikan password ke port
console.
Router(config)#line console 0
Router(config-line)#password
Router(config-line)#login
Password juga diberikan ke satu atau lebih virtual terminal (VTY) untuk
pengguna yang mengakses router melalui telnet. Biasanya router
mendukung 5 jalur vty yang diberi nama vty 0 sampai dengan vty 4.
Masing–masing jalur dapat diberi password yang sama atau berbeda.
Dibawah ini perintah untuk memberikan password pada virtual terminal.
Router(config)#line vty 0 4
Router(config-line)#password
Router(config-line)#login
Enable password dan enable secret digunakan untuk membatasi akses
ke privileged mode. Enable password digunakan jika enable secret
belum diset. Direkomendasikan menggunakan enable secret karena
Modul NTW.OPR.200.(2).A 58
dilakukan enkripsi terhadap passwordnya. Perintah dibawah ini
digunakan untuk memberikan enable password dan enable secret.
Router(config)#enable password
Router(config)#enable secret
4. Menjalankan Perintah Show
Ada banyak perintah show yang dapat digunakan untuk memastikan isi
dari konfigrasi yang telah diberikan. Pada priviliged maupun user mode
dapat diketik perintah ”show ?” untuk menampilkan perintah apa saja
yang dapat dijalankan setelah perintah show. Dibawah ini beberapa
contoh perintah show yang dapat dijalankan.
show interface, menampilkan seluruh statistik untuk seluruh
interface pada router. Untuk melihat interface yang khusus , ketiklah
perintah show interface diikuti nama interfacenya . Untuk contoh:
Router#show interfaces serial 0/1
show controller serial, menampilkan informasi spesifik dari
hardware interface.
Show clock, menampilkan waktu yang diset pada router.
Show host, menampilkan cached list yang berisi nama host dan
alamatnya.
Show users, menampilkan seluruh user yang terhubung ke router.
Show history, menampilkan perintah–perintah yang telah
dimasukkan.
Show flash, menampilkan informasi mengenai memory flash dan
IOS yang disimpan didalamnya.
Show version, menampilkan informasi mengenai router dan IOS
yang tersimpan dalam RAM.
Show ARP, menampilkan ARP table dari router.
Modul NTW.OPR.200.(2).A 59
Show protocol, menampilkan status global dan interface yang
telah dikonfigurasi menggunakan alamat layer 3.
Show startup-configuration, menampilkan konfigurasi yang
telah tersimpan pada NVRAM.
Show running-configuration, menampilkan konfigurasi yang
berjalan dan disimpan pada RAM.
5. Mengkonfigurasi Interface
Serial interface dapat dikonfigurasi melalui console atau jalur virtual
terminal. Untuk mengkonfigurasi serial interface langkah-langkahnya
adalah sebagai berikut:
Masuk ke global configuration mode
Masuk ke interface configuration mode, dilakukan dengan
memberikan perintah
Router(config)#interface (contohnya interface serial 0)
Atau
Router(config)#interface (contohnya interface
serial 0/1)
Masukkan IP Address dan Subnet Masknya dengan perintah
Router(config-if)#ip address
(contohnya ip address 192.168.0.1 255.255.255.0).
Untuk port serial, aturlah clock rate jika kabel DCE yang terpasang.
Tidak usah dilakukan jika kabel DTE yang terpasang pada interface
tersebut. Perintahnya adalah sebagai berikut
Router(config-if)#clock rate
Hidupkan interface tersebut. Defaultnya sebuah interface adalah
mati. Untuk menghidupkan menggunakan perintah
Router(config-if)#no shutdown
Untuk mematikan sebuah interface dapat menggunakan perintah
Router(config-if)#shutdown
Modul NTW.OPR.200.(2).A 60
6. Menyimpan dan Menghapus Konfigurasi
Untuk menyimpan konfigurasi yang sedang berjalan ke NVRAM
menggunakan perintah
Router#copy running-config startup-config
Dengan memberikan perintah diatas maka konfigurasi yang sedang
berjalan maka konfigurasi akan dipanggil lagi apabila router mati.
Untuk menghapus konfigurasi yang sudah disimpan di NVRAM
menggunakan perintah
Router#erase startup-config
Router#reload
7. Mengkonfigurasi Host Name Resolution
Host name resolution adalah proses dimana sistem komputer
mengasosiasikan nama host dengan IP Address. Untuk menggunakan
host name untuk berkomunikasi dengan perangkat jaringan lainnya,
router harus mampu mengasosiasikan host name dengan IP Address.
Daftar yang berisi host name dan IP Address yang berasosiasi
dengannya disebut host table.
Perintah untuk mengkonfigurasi host name resolution adalah ”ip host”
yang diikuti nama hostnya dan ip address yang diasosiakan. IP Address
yang dimasukkan bisa lebih dari satu tetapi yang diasosiasikan pertama
kali adalah IP Address yang dicantumkan pertama kali dan diusahakan
adalah IP Address yang terdekat dari Router. Perintahnya adalah
sebagai berikut.
Router(config)#ip host
Modul NTW.OPR.200.(2).A 61
8. Mengkonfigurasi Static Route
Static Route dikonfigurasi dengan memberi perintah ”ip route”. Ada 3
jenis static route yang dapat digunakan yaitu:
Menggunakan interface sebagai gateway
Menggunakan hop berikutnya
Gambar. 38
Modul NTW.OPR.200.(2).A 62
Jaringan yang tidak terhubung langsung
Gambar. 39
Gambar. 40
Modul NTW.OPR.200.(2).A 63
9. Mengkonfigurasi RIP
Routing Information Protocol (RIP) dikonfigurasikan dengan
memberikan perintah.
Router(config)#router rip
Router(config-router)#network
Perintah yang kedua diberikan sebanyak jumlah network yang
terhubung ke router tersebut secara langsung. Alamat jaringan yang
dimasukkan adalah network address bukan subnet address atau alamat
IP Address salah satu host.
10. Mengkonfigurasi Enkapsulasi HDLC
Enkapsulasi default yang digunakan HDLC. Jika interface serial telah
dikonfigurasi dengan protokol enkapsulasi lainnya, dan enkapsulasi
harus dirubah kembali menjadi HDLC maka langkahnya adalah:
1. Dari user mode ketik enable
2. Dari privilledge mode ketik configure terminal
3. Ketik Interface nama interface contoh interface serial 0/0
4. Ketik encapsulation hdlc
11. Mengkonfigurasi Enkapsulasi PPP
Langkah–langkah mengkonfigurasi PPP:
1. Dari user mode ketik enable
2. Dari privilledge mode ketik configure terminal
3. Ketik Interface nama interface contoh interface serial 0/0
4. Ketik encapsulation ppp
Software kompresi point to point dapat dikonfigurasi pada serial
interface dimana menggunakan enkapsulasi. Kompresi diberikan pada
Modul NTW.OPR.200.(2).A 64
software dan mungkin secara signifikan berakibat pada perfomansi
system. Kompresi tidak dianjurkan jika sebagian besar trafik berisi file
terkompresi (contoh *.zip, *.rar).
Untuk mengkonfigurasi kompresi melalui PPP, langkah–langkahnya
adalah:
1. Dari user mode ketik enable
2. Dari privilledge mode ketik configure terminal
3. Ketik Interface nama interface contoh interface serial 0/0
4. Ketik encapsulation ppp
5. Ketik compress [predictor | stac]
Untuk memonitor rusaknya data pada jalur, dan mencegah looping
frame lakukan langkah sebagai berikut:
1. dari user mode ketik enable
2. dari privilledge mode ketik configure terminal
3. ketik Interface nama interface contoh interface serial 0/0
4. ketik encapsulation ppp
5. ketik ppp quality percentage
Perintah berikut ini memberikan layanan load balancing melalui multiple
link
1. dari user mode ketik enable
2. dari privilledge mode ketik configure terminal
3. ketik Interface nama interface contoh interface serial 0/0
4. ketik encapsulation ppp
5. ketik ppp multilink
Perintah berikut ini melakukan konfigurasi otentikasi PPP
1. dari user mode ketik enable
Modul NTW.OPR.200.(2).A 65
2. dari privilledge mode ketik configure terminal
3. ketik username name password secret catt:
- name diisi nama host dari remote router ( case sensitive )
- secret, pada router CISCO, secret password harus sama untuk 2
router
4. ketik Interface nama interface contoh interface serial 0/0
5. ketik encapsulation ppp
6. ketik ppp authentication {chap|chap pap|pap chap|pap}
Jika CHAP dan PAP di enabled, kemudian metode pertama akan diminta
selama proses fase negosiasi jalur. Jika sama maka menyarankan
menggunakan metode kedua atau jika menolak metode pertama,
kemudian metode kedua akan dicoba.
Pada IOS Release 11.1 atau sesudahnya, PAP harus dienablekan pada
interface, jika tidak maka secara default akan didisablekan.
Perintahnya adalah
- Pada interface configuration mode ketik ppp pap sent-username
username password password
c. Rangkuman
1. CLI (Command-Line interface) adalah suatu interface dari user ke
router menggunakan perintah berbasis teks. CLI menggunakan struktur
berhirarki. Struktur ini membutuhkan user untuk memasuki suatu
mode tertentu untuk menjalankan suatu perintah.
2. IOS menyediakan sebuah command intepreter yang disebut command
executive (EXEC).
3. User EXEC mode memperbolehkan hanya beberapa perintah monitoring
terbatas.
Modul NTW.OPR.200.(2).A 66
4. Privileged EXEC mode mampu mengakses seluruh perintah router.
Mode ini dapat dikonfigurasi untuk membutuhkan password ketika user
akan mencoba mengaksesnya.
5. Router digunakan untuk menghubungkan jaringan yang berbeda.
6. Setelah proses instalasi dan konfigurasi jaringan selesai, jaringan
haruslah di test, untuk melihat apakah instalasi (mulai dari memasang
kabel sampai dengan konfigurasi sistem secara software) telah
dilakukan dengan benar, dan bisa beroperasi dengan baik ataukah
belum. Jika belum berati masih ada kesalahan dan haruslah diperbaiki
d. Tugas
1. Pelajarilah uraian materi tentang konfigurasi WAN dengan baik. Buatlah
rangkuman dari materi tersebut, diskusikan dengan teman anda.
2. Lihatlah konfigurasi dari router yang terpasang pada jaringan komputer
sekolah atau WAN kota terdekat!
3. Carilah materi yang terkait dengan pengujian jaringan WAN! Diskusikan
dengan teman anda!
e. Tes Formatif
1. Jelaskan yang dimaksud dengan User EXEC Mode!
2. Sebutkan perintah untuk mengganti nama router!
3. Tuliskan langkah–langkah memberikan password pada virtual terminal!
4. Jelaskan perintah show interface!
Modul NTW.OPR.200.(2).A 67
f. Kunci Jawaban Tes Formatif
1. User EXEC mode memperbolehkan hanya beberapa perintah monitoring
terbatas. Sering disebut mode “view only”. User mode tidak
memperbolehkan perintah apapun yang dapat mengganti konfigurasi
router. User mode dapat diidentifikasi dengan prompt “>”.
2. Router(config)#hostname
3. Router(config)#line vty 0 4
Router(config-line)#password
Router(config-line)#login
4. Show interface digunakan untuk menampilkan seluruh statistik untuk
seluruh interface pada router. Untuk melihat interface yang khusus ,
ketiklah perintah show interface diikuti nama interfacenya
g. Lembar Kerja
Alat dan bahan:
1. Pensil/ball point ............................................. 1 buah
2. Penghapus ..................................................... 1 buah
3. Kertas folio...................................................... secukupnya
4. Komputer (termasuk NIC) ................................ 6 unit
5. Router ............................................................ 3 unit
6. Switch............................................................. 3 unit
7. Kabel DCE ....................................................... 3 buah
8. Kabel DTE ....................................................... 3 buah
9. Kabel UTP Straigh Through .............................. 9 buah
Kesehatan dan Keselamatan Kerja
1. Berdo’alah sebelum memulai kegiatan belajar.
2. Bacalah dan pahami petunjuk praktikum pada setiap lembar kegiatan
belajar.
Modul NTW.OPR.200.(2).A 68
3. Pastikan komputer, HUB, kabel, konektor, router dan switch semua
kondisinya baik.
4. Jangan meletakkan benda yang dapat mengeluarkan medan
elektromagnetik di dekat komputer, switch, hub dan router (magnet,
handphone, dan sebagainya).
5. Gunakanlah komputer dan router sesuai fungsinya dengan hati-hati.
6. Setelah selesai, matikan komputer dengan benar.
Lembar Kerja
1. Amati jenis kabel dan konektor yang router dengan jaringan WAN yang
ada pada sekolah anda!
2. Buatlah jaringan sesuai gambar dibawah ini dan konfigurasikan semua
peralatan didalamnya!
3. Berikan IP Address untuk semua komputer yang terpasang sesuai
dengan Network Addressnya!
4. Periksakan hasil kerja anda pada instruktur!
5. Kembalikan seluruh peralatan pada tempatnya!
Gambar. 41
Modul NTW.OPR.200.(2).A 69
Kegiatan Belajar 4. Menyambung Perangkat dan Setting
Perangkat Menggunakan Software
a. Tujuan Pemelajaran
Setelah mempelajari kegiatan belajar ini peserta diklat mampu menjelaskan
spektrum frekuensi dan fungsinya pada standar waveLAN serta prinsip
kerja kabel serat optik berdasarkan pada prinsip cermin dan pembiasan
cahaya.
b. Uraian materi
1. Spektrum Elektromagnetik
Ketika sebuah tegangan elektrik berpindah, sebuah tipe energi yang
disebut energi elektromagnetik terbuat. Energi ini dalam bentuk
gelombang dapat berpindah melalui ruang hampa, udara dan melalui
beberapa material seperti gelas. Satu hal yang penting dalam setiap
gelombang energi adalah panjang gelombang.
Radio, gelombang micro, radar, sinar yang terlihat, sinar x dan sinar
gamma kelihatan sebagai hal yang sangat berbeda. Sebenarnya
kesemua hal tersebut adalah tipe dari energi elektromagnetik. Jika
semua tipe dari gelombang elektromagnetik disusun dari panjang
gelombang tertinggi sampai dengan terendah, maka susunan tersebut
disebut spektrum elektromagnetik.
Gambar. 42
Modul NTW.OPR.200.(2).A 70
Panjang gelombang ditentukan dari bagaimana frekuensi dari tegangan
elektrik membuat gelombang naik dan turun. Jika gelombang naik dan
turun dengan lambat, panjang gelombangnya akan besar. Karena
gelombang elektromagnetik dibuat dengan cara yang sama, maka
semua gelombang elektromagnetik mempunya sifat yang sama.
Gelombang–gelombang tersebut melakukan perjalanan dengan
kecepatan 3 x 108 m/dtk melalui ruang hampa udara.
2. Spektrum Gelombang Radio dan Microwave
Komputer mengirimkan sinyal data elektronik. Pengirim merubah sinyal
tersebut ke bentuk gelombang radio. Perubahan arus elektrik pada
antena dari pengirim menciptakan gelombang radio. Gelombang radio
tersebut mengitari keluar pada garis lurus dari antena. Kemudian
gelombang tersebut mengalami hambatan setelah keluar dari antena.
Pada WaveLAN, sinyal radio diukur dari jarak hanya 10 meter dari
antena pengirim hanya akan mempunyai kekuatan 1/10 dari kekuatan
asalnya. Seperti cahaya, gelombang radio dapat dihambat oleh
beberapa material dan dipantulkan oleh material lainnya.
Karena sinyal radio melemah ketika melakukan perjalanan keluar dari
pengirim, penerima harus dilengkapi juga dengan sebuah antena.
Ketika gelombang radio mengenai antena dari penerima, gelombang
arus yang lemah terbuat di antena. Gelombang tersebut dikuatkan
sehingga sama dengan gelombang dari pengirim.
Pada pengirim, sinyal elektronik dari komputer atau LAN tidak dikirim
secara langsung ke antena dari pengirim. Sinyal data tersebut
Modul NTW.OPR.200.(2).A 71
ditumpangkan dahulu pada sinyal kedua, yaitu sebuah sinyal yang kuat
yang disebut sinyal pembawa (carrier signal).
Proses menumpangkan ke sinyal pembawa yang akan dimasukkan ke
antena pengirim disebut modulasi. Ada tiga cara dasar dimana sinyal
pembawa dapat dimodulasi. Yang pertama adalah Amplitude
Modulation (AM), dimana tinggi (amplitudo) sinyal pembawa berubah–
ubah sesuai dengan sinyal data. Kedua adalah Frequency Modulation
(FM), dimana kerapatan (frekuensi) sinyal pembawa berubah–ubah
sesuai dengan amplitudo sinyal data. Ketiga adalah Phase Modulation
(PM), dimana fase sinyal pembawa berubah–ubah sesuai dengan
perubahan sinyal data. Pada WaveLAN, digunakan cara yang ketiga
yaitu Phase Modulation (PM).
Penerima melakukan demodulasi sinyal pembawa yang sampai ke
antenanya. Penerima menerjemahkan perubahan fase dari sinyal
pembawa dan membentuk ulang ke sinyal data aslinya.
Gambar. 42
Modul NTW.OPR.200.(2).A 72
3. Standar WaveLAN
Seperti halnya pada jaringan kabel, IEEE adalah organisasi utama yang
membahas mengenai jaringan wireless. Standar dibuat dalam kerangka
kerja yang dibuat oleh Federal Communications Commision (FCC).
Teknologi kunci dalam standar 802.11 adalah Direct Sequence Spread
Spectrum (DSSS). DSSS menerapkan ke perangkat wireless untuk
bekerja pada range 1 sampai dengan 2 Mbps. Sistem DSSS mungkin
beroperasi sampai dengan 11 Mbps tetapi tidak dianggap diatas 2
Mbps. Standar berikutnya yaitu 802.11b, dimana kemampuan transmisi
ditingkatkan sampai dengan 11 Mbps.
802.11b juga sering disebut WiFi atau wireless kecepatan tinggi dan
mengacu pada sistem DSSS yang beroperasi pada 1 Mbps, 2 Mbps, 5,5
Mbps, dan 11 Mbps. Seluruh sistem 802.11b adalah backward
compliant dimana mampu mendukung 802.11 untuk kecepatan data 1
atau 2 Mbps hanya untuk sistem DSSS. Backward compatibility adalah
sangat penting untuk memungkinkan upgrade jaringan wireless tanpa
mengganti NIC atau Access Point.
Perangkat 802.11b mendapat kecepatan data yang lebih tinggi dengan
menggunakan teknik pengkodean yang berbeda dibandingkan 802.11,
yang memungkinkan jumlah data yang lebih besar dapat dikirim pada
frame yang sama. Kebanyakan perangkat 802.11b gagal mencapai
kecepatan transfer data 11 Mbps dan umumnya bekerja pada
kecepatan antara 2 sampai dengan 4 Mbps.
802.11a melayani semua perangkat wireless yang beroperasi pada band
frekuensi 5 GHz. Menggunakan C-Band (5.725–5.875 GHz) tidak
Modul NTW.OPR.200.(2).A 73
memungkinkan bekerjasama dengan 802.11b yang beroperasi pada SBand
(2.4–2.5 GHz). 802.11a mampu mensuplai throughput data pada
54 Mbps dan dengan teknologi yang dikenal dengan ”rate doubling”
dapat mencapai 108 Mbps. Pada umumnya standar yang digunakan
adalah 20-26 Mbps.
802.11g menyediakan throughput yang sama dengan 802.11a tetapi
dengan backward compatibility untuk perangkat 802.11b menggunakan
teknologi modulasi Othogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM).
Keuntungan menggunakan WaveLAN adalah sebagai berikut:
- Mobility, kemampuan perangkat untuk lebih mudah berpindah
seperti laptop, PDA, Smart Device dll).
- Scalability, kemampuan jaringan untuk berkembang mengikuti
kebutuhan pengguna.
- Flexibility, kemampuan jaringan untuk menyesuaikan dengan kondisi
lingkungan dimana jaringan akan dipasang.
- Short and long term cost saving, kemampuan jaringan untuk
mengefisienkan biaya untuk jangka waktu pendek dan panjang.
- Instalasi yang lebih mudah dan cepat.
- Mampu bertahan dalam lingkungan kerja yang keras.
4. Perangkat WaveLAN
Jaringan wireless mungkin berisi sedikitnya dua perangkat. PC atau
laptop yang dilengkapi dengan NIC wireless dapat membangun jaringan
yang sama dengan jaringan peer to peer pada jaringan wireline. Kedua
perangkat tersebut berperilaku sebagai server dan client. Problemnya
adalah keamanan yang minim dan NIC dari produsen yang berbeda
mungkin tidak dapat berkomunikasi.
Modul NTW.OPR.200.(2).A 74
Untuk mengatasi hal tersebut, sebuah Access Point (AP) biasanya
dipasang sebagai hub pusat untuk infrastruktur WaveLAN (Wireless
LAN). AP menyediakan port untuk koneksi ke LAN dengan kabel. AP
dilengkapi antena dan menyediakan koneksi ke area khusus yang
disebut cell. Ukuran cell bervariasi tergantung pada komposisi struktur
dari lokasi dimana AP dipasang dan ukuran serta gain dari antena.
Umumnya jarak dari 91,44 m sampai dengan 152,4 m. Untuk melayani
area yang luas, beberapa access point akan dipasang dengan sebuah
sudut yang saling menumpuk (overlap). Overlap memungkinkan
”roaming” diantara cell. Hal ini sama dengan layanan yang diberika
oleh perusahaan telepon seluler. Meskipun tidak dijelaskan pada
standar IEEE, overlap sekitar 20%-30% dibutuhkan. Banyaknya overlap
memungkinkan roaming diantara cell, memungkinkan untuk memutus
dan menyambung lagi koneksi tanpa interupsi layanan. Sebaiknya
seluruh cell menggunakan SSID yang sama untuk menyediakan
roaming pada jaringan tersebut.
Gambar. 43
Modul NTW.OPR.200.(2).A 75
Ketika client aktif dalam WaveLAN, client akan mulai ”mendengar”
untuk perangkat yang sesuai yang kemudian akan berkomunikasi. Hal
ini disebut ”scanning” dan mungkin aktif atau pasif.
Scanning aktif menyebabkan probe request dikirimkan dari host untuk
bergabung ke jaringan. Probe request berisi Service Set Identifier
(SSID) dari jaringan yang diharapkan akan bergabung. Ketika Access
Point dengan SSID yang sama ditemukan, Access Point akan membalas
probe request tersebut. Langkah autentikasi dan asosiasi telah selesai.
Scanning pasif akan membuat host mendengar beacon management
frames (beacons), yang dikirimkan oleh Access Point atau host lainnya.
Ketika host menerima sebuah beacon yang berisi SSID dari jaringan
dan berusaha bergabung.
Diantara dua perangkat yang akan dihubungkan seharusnya dapat
saling bertatapan (line of sight). Dibawah ini adalah hal–hal yang
memungkinkan adanya halangan (obstacle) diantara dua perangkat
tersebut antara lain:
- Topografi seperti gunung atau bukit.
- Lingkaran bumi
Gambar. 44
Modul NTW.OPR.200.(2).A 76
- Gedung atau objek buatan manusia lainnya.
- Pepohonan
- Logam
- Tembok atau partisi ruangan lainnya.
Perangkat yang digunakan untuk menghubungkan dua atau lebih
jaringan yang biasanya berada pada gedung atau lokasi yang berbeda
disebut bridge. Digunakan juga antena untuk berkomunikasi antar
gedung. Ada beberapa jenis antena dan spesifikasi yang berbeda-beda.
Dilihat dari arahnya ada dua jenis antena yaitu Omni directional yaitu
antena yang memancar ke segala arah (360) dan Directional yaitu
antena yang memancar dengan sudut tertentu.
Gambar. 45
Modul NTW.OPR.200.(2).A 77
Wireless repeater adalah Access Point yang tidak terhubung ke kabel
backbone. Membutuhkan overlapping sebanyak 50% dari Access Point
yang terhubung ke kabel backbone. Throughput untuk perangkat yang
terhubung ke repeater menjadi lebih kecil. Administrator dapat
membuat rantai dari beberapa repeater, tetapi setiap penambahan
rantai tersebut throughput menjadi setengah dari yang seharusnya.
Disarankan untuk tidak lebih dari dua hop untuk setiap rantainya.
Gambar. 46
Modul NTW.OPR.200.(2).A 78
5. Komunikasi Pada Wave LAN
Setelah pembangunan koneksi ke WaveLAN, node akan melewatkan
frame sama seperti jaringan 802.x lainnya. Ada tiga tipe frame yaitu
control, management dan data. Hanya frame data yang sama dengan
frame 802.3. Beban pada frame 802.3 adalah 1500 byte, walaupun
panjang frame 802.3 mungkin tidak lebih dari 1518 byte, sedangkan
pada WaveLAN frame dapat mencapi 2346 byte. Biasanya frame yang
akan dikirimkan ke LAN kabel mempunyai panjang tidak lebih dari 1518
byte.
Gambar. 47
Modul NTW.OPR.200.(2).A 79
Karena frekuensi radio adalah media yang digunakan bersama-sama,
collision (tabrakan) dapat terjadi seperti halnya pada jaringan kabel.
Perbedaan utamanya adalah tidak adanya metode dimana sumber
dapat mendeteksi adanya collision. Untuk alasan tersebut WaveLAN
menggunakan Carrier Sense Multiple Access/Collision Avoidance
(CSMA/CA). Teknologi tersebut setara dengan CSMA/CD pada jaringan
kabel.
Ketika sumber mengirimkan sebuah frame, penerima akan
mengembalikan Acknowledgment positif. Hal ini menggunakan 50%
dari bandwidth yang tersedia. Overhead ini ketika digabungkan dengan
protokol collision avoidance mengurangi throughput menjadi maksimum
5 sampai dengan 5,5 Mbps pada jaringan 802.11b yang mempunyai
kecepatan 11 Mbps.
Perfomansi dari jaringan juga akan dipengaruhi oleh kekuatan sinyal
dan degradasi pada kualitas sinyal yang disebabkan jarak dan
interferensi. Sinyal yang menjadi melemah, Adaptive Rate Selection
(ARS) mungkin akan dilibatkan. Kecepatan data akan turun dari 11
Gambar. 48
Modul NTW.OPR.200.(2).A 80
Mbps menjadi 5,5 Mbps, dari 5,5 Mbps menjadi 2 Mbps atau dari 2
Mbps menjadi 1 Mbps jika jarak antara client dan Access Point
bertambah.
6. Autentikasi dan Asosiasi
Autentikasi WaveLAN terjadi pada layer 2. Itu adalah proses autentikasi
yang dilakukan oleh perangkat bukan pengguna. Ini adalah titik penting
yang harus diingat ketika mempertimbangkan keamanan WaveLAN,
mengatasi masalahnya dan mengatur WaveLAN.
Autentikasi mungkin merupakan proses yang tidak ada, pada kasus
sebuah Access Point dan NIC baru dengan konfigurasi standar. Client
akan mengirimkan frame authentication request ke AP dan frame
tersebut akan diterima atau ditolak oleh AP. Client diberitahu jawaban
melalui frame authentication response. AP mungkin juga dikonfigurasi
untuk menyerahkan tugas autentikasi ke sebuah authentication server,
dimana server tersebut akan melakukan proses autentikasi yang lebih
baik.
Gambar. 49
Modul NTW.OPR.200.(2).A 81
Ada tiga tipe autentikasi dan asosiasi yaitu:
a. Unauthenticated and unassociated
Host akan diputuskan dari jaringan dan tidak diasosiasikan dengan
AP.
b. Authenticated and unassociated
Host yang telah diautentikasi pada jaringan tetapi belum
diasosiasikan dengan AP.
c. Authenticated and associated
Host terhubung ke jaringan dan mampu untuk mengirim dan
menerima data melalui access point.
Ada dua tipe proses autentikasi berdasarkan standar 802.11 yaitu:
a. Open system
Proses ini adalah standar koneksi yang terbuka dimana hanya SSID
yang harus sama.
b. Shared key
Proses ini membutuhkan penggunaan enkripsi WEP (Wireless
Equivalency Protocol). WEP adalah algoritma sederhana
menggunakan kunci 64 dan 128 bit. AP dikonfigurasi dengan kunci
enkripsi dan host yang mencoba mengakses jaringan melalui AP
harus mempunyai kunci yang cocok. Menggunakan proses ini lebih
bagus dibandingkan open system walaupun bukan berarti tahan
”hack”. Problem keamanan pada WaveLAN diatasi dengan beberapa
solusi teknologi keamanan yang baru.`
7. Sinyal dan Noise pada WaveLAN
Pada jaringan ethernet dengan kabel, proses untuk mengidentifikasi
penyebab interferensi dapat dilakukan dengan lebih mudah
dibandingkan pada WaveLAN. Ketika menggunakan teknologi frekuensi
radio, ada begitu banyak interferensi yang harus diperhatikan.
Modul NTW.OPR.200.(2).A 82
Narrowband adalah kebalikan dari teknologi spread spectrum. Sesuai
dengan namanya, narrowband tidak akan berpengaruh terhadap
keseluruhan spektrum frekuensi dari sinyal wireless. Salah satu solusi
untuk mengatasi masalah interferensi pada narrowband adalah dengan
mengganti channel yang digunakan oleh AP. Untuk mengidentifikasi
sumber interferensi dibutuhkan alat yang disebut spectrum analyzer
dan alat tersebut relatif mahal.
Terdapat juga interferensi yang berakibat pada keseluruhan frekuensi
yang tersedia. Teknologi Bluetooth melalui frekuensi 2,4 GHz beberapa
kali per detik dan dapat menyebabkan interferensi yang signifikan pada
jaringan 802.11b. Di rumah dan kantor, peralatan yang sering
menyebabkan interferensi adalah oven microwave. Kebocoran dari
microwave walaupun kecil dapat menyebabkan ganguan yang besar
dalam WaveLAN. Telepon seluler yang beroperasi pada frekuensi 2,4
GHz juga dapat menyebabkan interferensi.
Umumnya sinyal frekuensi radio tidak akan dipengaruhi oleh kondisi
cuaca apapun. Tetapi, kabut atau kondisi yang sangat lembab dapat
berakibat pada WaveLAN. Pencahayaan dapat juga berakibat pada
atmosfer dan berakibat pada sinyal WaveLAN.
Sumber utama dari sumber masalah sinyal adalah station pengirim dan
tipe antena. Station pengirim yang tinggi akan mengirimkan sinyal lebih
jauh dan antena jenis parabola dish dapat mengkonsentrasikan sinyal
yang akan meningkatkan jarak transmisi. Jenis antena twin
omnidirectional pada access point juga dapat mengurangi jarak
komunikasi.
Modul NTW.OPR.200.(2).A 83
8. Mengubah Ukuran Energi pada WaveLAN
Ukuran energi pada sebuah segmen WaveLAN jarang diatas 100 mW.
Energi diatas 100 mW cukup untuk berkomunikasi sampai dengan 3–4
km. Access Pont umumnya memiliki kemampuan dari 30–100 mW.
Perangkat outdoor (bridges) menggunakan energi diatas 100 mW.
Untuk merubah ukuran energi dapat dilakukan dari perangkat lunak
yang disertakan dalam perangkat tersebut. Administrator juga dapat
melihat ukuran energi dari perangkat lunak tersebut.
Gambar. 50
Modul NTW.OPR.200.(2).A 84
Ukuran energi selain menggunakan Watt, juga menggunakan satuan
decibel (dB). dB diukur berdasarkan logaritma berbasis 10, artinya kalo
terjadi selisih sebesar 1 dB sama dengan selisih energi sebesar 10 kali
lipat. Skala ini memudahkan untuk bekerja pada angka-angka besar.
Menghitung dB dilakukan menggunakan rumus sebagai berikut:
dB = 10 log10(Pakhir/Pawal)
dimana:
dB = banyaknya energi dalam decibel
Pakhir = energi akhir, yaitu ukuran energi setelah proses terjadi.
Pakhir = energi awal, yaitu ukuran energi sebelum proses terjadi.
Gambar. 51
Modul NTW.OPR.200.(2).A 85
Satuan decibel memiliki beberapa varian. dBx dimana x
menggambarkan suatu nilai tertentu, sering digunakan untuk
menggantikan dB. Dibawah ini adalah referensi untuk decibel yaitu:
dBm, dimana m adalah miliwatt. Jika dibutuhkan nilai dBm bisa
dikembalikan lagi ke nilai watt. Energi yang hilang atau dikuatkan
dari sinyal dapat diketahui dengan melihat titik referensi yang tetap
yaitu
miliwatt
dBd, dimana d adalah dipole. Satuan ini menunjukkan penguatan
yang dimiliki oleh antena, yang dibandingkan dengan antena dipole
pada frekuensi yang sama. Antena dipole adalah antena terkecil
dimana antena tersebut adalah antena dengan penguatan paling
sedikit yang dapat dibuat.
dBi, dimana i adalah isotropic. Satuan ini sama dengan dBd tetapi
pembandingnya adalah teori isotropic. Teori isotropic untuk antena
tidak dapat diwujudkan tetapi berguna untuk menghitung secara
teoritis coverage dan fade area.
EIRP (Effective Isotropic Radiated Power). EIRP adalah energi
efektif yang didapat pada main lobe dari antena pengirim.
Menghitung EIRP adalah dengan menjumlahkan penguatan antena
(dalam satuan dBi) dengan level energi (dalam satuan dBm) pada
antena tersebut.
Gambar. 52
Modul NTW.OPR.200.(2).A 86
9. Setup Channel dan Topologi Bridge
Ada dua langkah penting dalam pengembangan WaveLAN yaitu :
Tentukan penempatan dari Access Point atau bridge, termasuk
jumlah dari Access Point atau bridge yang dibutuhkan untuk
melayani seluruh area. Pastikan juga bahwa daerah yang tidak
terlayani berukuran kecil
Petakan pemberian channel, usahakan overlap sesedikit mungkin
diantara channel yang menggunakan frekuensi yang sama.
Tentukan juga level energi untuk setiap Access Point. Besarnya level
energi menentukan luas daerah yang dilayani. Ada kalanya
dibutuhkan menurunkan energi untuk membentuk pico-cell, yaitu
cell dengan ukuran kecil. Hal ini dilakukan untuk mencegah
overlapping yang terlalu banyak dan cell tersebut keluar gedung
yang tentunya akan menimbulkan masalah dalam keamanannya.
Level energi juga tidak melebihi maksimum level yang
diperbolehkan oleh organisasi yang mengaturnya.
Dalam menentukan channel dan frekuensi yang digunakan, sebaiknya
mengetahui frekuensi yang sudah digunakan oleh organisasi atau
perusahaan yang lokasinya berdekatan. Hal ini karena frekuensi 2,4 dan
5 GHz merupakan frekuensi yang tidak berlisensi, artinya setiap orang
Gambar. 53
Modul NTW.OPR.200.(2).A 87
berhak menggunakan frekuensi tersebut tanpa diatur oleh organisasi
manapun. Pengukuran dapat menggunakan spectrum analyzer dan
bertujuan untuk mencegah adanya interferensi karena menggunakan
frekuensi yang sama.
Sebuah bridge dapat diatur mode rootnya. Ada dua mode root yaitu:
On, artinya bridge atau Access Point menjadi root. Bridge tersebut
disebut master bridge. Bridge ini hanya berkomunikasi dengan client
dan repeater. Tidak akan berkomunikasi dengan sesama root bridge
lainnya. Sebuah jaringan dapat berisi lebih dari satu root bridge.
Off, artinya non root bridge. Bridge ini dapat berkomunikasi dengan
bridge root atau bridge non root lainnya yang berasosiasi dengan
root bridge. Mampu berkomunikasi dengan client selama terhubung
ke root bridge. Interface ethernet pada bridge ini dimatikan.
Untuk komunikasi antara bridge dapat menggunakan dua konfigurasi
yaitu:
Point to point, dua buah antena saling berhadapan dan harus line
of sight. Dalam konfigurasi ini kedua segment berperilaku sebagai
menjadi satu segment. Jarak diantara dua buah antena bisa
mencapai 40 km. Konfigurasi ini menggunakan antena directional
untuk setiap sitenya.
Gambar. 54
Modul NTW.OPR.200.(2).A 88
Point to multipoint, dimana terdapat sebuah antena omni directional
yang berperilaku sebagai main site. Antena directional digunakan
pada remote site. Pada konfigurasi ini LAN berperilaku sebagai satu
segmen. Trafic dari satu area akan dikirimkan ke main site dan
diteruskan ke area lainnya. Diantara remote site tidak dapat
berkomunikasi secara langsung dan harus melibatkan main site.
Line of sight diantara masing–masing remote site terhadap main
site.
Gambar. 55
Modul NTW.OPR.200.(2).A 89
10. Sinar Cahaya
Ketika gelombang elektromagnetik keluar dari sumber, gelombang
tersebut akan menempuh suatu garis lurus. Garis lurus yang keluar dari
sumber disebut sinar. Pada vacuum, cahaya akan menembus dengan
kecepatan 300.000 kilometer per detik dalam suatu garis lurus. Cahaya
akan memiliki kecepatan yang lebih rendah apabila melalui material
lainnya seperti udara, air dan gelas. Ketika sinar cahaya melalui batas
sebuah material dengan material lainnya, beberapa energi cahaya
tersebut akan dipantulkan kembali. Hal ini yang menyebabkan kita
dapat melihat bayangan diri kita di cermin. Cahaya yang memantul
disebut sinar pantul (reflected ray).
Sudut diantara sinar datang dan garis tegak lurus dengan permukaan
sebuah material disebut sudut datang. Garis tegak lurus tersebut
disebut garis normal. Sudut diantara garis normal dengan sinar pantul
disebut sudut pantul. Hukum pemantulan cahaya menyebutkan bahwa
sudut datang sama dengan sudut pantul.
Gambar. 56
Modul NTW.OPR.200.(2).A 90
Energi cahaya yang tidak memantul akan masuk ke material tersebut.
Cahaya yang masuk akan dibelokkan dari jalur yang seharusnya.
Cahaya ini disebut sinar bias (refracted ray). Berapa banyak sudut yang
terbentuk diantara sinar datang dan sinar bias tergantung pada sudut
diantara sinar datang dan permukaan material serta perbedaan
kecepatan cahaya ketika cahaya melalui kedua material tersebut.
Pembelokan sinar cahaya pada batas diantara dua material tersebut
yang menjadi sebab kenapa sebuah cahaya dapat menempuh
perjalanan melalui serat optik.
Indeks bias adalah satuan yang menggambarkan besarnya hambatan
yang didapat sebuah cahaya ketika menempuh sebuah material.
Semakin besar indeks bias maka semakin besar juga penurunan
kecepatan cahaya ketika menempuh material tersebut dibandingkan
ketika menempuh perjalanan pada vacuum. Rumus menghitung indeks
bias adalah sebagai berikut:
Indeks bias = n = kecepatan cahaya pada vacum
Kecepatan cahaya pada material
Gambar. 57
Modul NTW.OPR.200.(2).A 91
Jika sinar datang membentuk 90 derajat terhadap permukaan material
maka sinar tersebut akan masuk lurus ke material tersebut tanpa
dibiaskan. Jika sinar datang dari material dengan indeks bias lebih
tinggi, sinar bias akan menjauhi garis normal, begitu juga sebaliknya.
11. Pemantulan sempurna pada serat optik
Cahaya digunakan untuk membawa data melalui serat optik. Sinar
cahaya harus dijaga selalu berada di dalam serat optik sampai ke
tujuan. Sinar harus tidak dibiaskan ke material yang membungkus serat
optik. Pembiasan akan menyebabkan hilangnya sebagian energi dari
cahaya tersebut.
Gambar. 58
Modul NTW.OPR.200.(2).A 92
Hukum pemantulan dan pembiasan cahaya menggambarkan bagaimana
mendesain sebuah serat yang mampu menuntun cahaya melalui serat
optik dengan kehilangan energi yang paling minimal. Ada dua kondisi
yang harus didapatkan untuk sebuah sinar cahaya pada serat optik agar
dapat dipantulkan kembali ke dalam serat optik tanpa kehilangan energi
akibat pembiasan yaitu:
Inti dari serat optik harus memiliki indeks bias lebih tinggi dari
material yang mengelilinginya. Material yang mengelilingi core
disebut cladding.
Sudut datang dari sinar harus lebih besar dari sudut kritis dari core
dan cladding. Sudut datang dari sinar harus lebih besar dari sudut
kritis dari core dan cladding. Sudut kritis adalah sudut terbesar yang
memungkinkan cahaya akan dibiaskan dan dipantulkan.
Ketika kedua kondisi tersebut didapatkan, maka semua sinar datang
akan dipantulkan kembali kedalam serat optik. Ini disebut pemantulan
sempurna, yang merupakan dasar pembuatan serat optik. Cahaya akan
menempuh jalur zigzag didalam core serat optik.
Gambar. 59
Modul NTW.OPR.200.(2).A 93
Serat optik yang memenuhi kondisi pertama dapat mudah dibuat.
Sebagai tambahan, sudut datang yang masuk ke core serat optik dapat
dikontrol. Ada dua faktor yang membatasi sudut datang yaitu:
Numerical aperture dari serat (NA), yaitu range dari sudut datang
yang masuk ke core dan akan dipantulkan sempurna.
Modes, jalur dimana sinar cahaya dapat diikuti ketika masuk ke
serat optik.
Dengan mengontrol kedua kondisi tersebut, serat optik akan melakukan
pemantulan sempurna.
12. Kabel serat optik
Bagian dari serat optik dimana cahaya melakukan perjalanan disebut
core. Sinar cahaya dapat masuk ke core jika sudut datang berada pada
range numerical aperture. Core memiliki jumlah jalur optik yang
terbatas. Jalur optik tersebut dinamakan mode. Jika diameter dari core
cukup besar sehingga ada banyak jalur yang dapat dilalui melalui serat
optik, serat tersebut dinamakan multimode. Serat optik single mode
Gambar. 60
Modul NTW.OPR.200.(2).A 94
memiliki core yang lebih kecil sehingga hanya memungkinkan satu
mode saja yang dapat melalui serat optik.
Setiap kabel serat optik yang digunakan untuk jaringan terdiri dua buah
serat optik yang dibungkus oleh perisai yang terpisah. Satu serat
digunakan untuk membawa data dari A ke B, satunya lagi digunakan
untuk sebaliknya. Hal ini menjadikan jalur komunikasi full duplex.
Biasanya dua kabel tersebut akan berada dalam satu outer jacket
sampai ke ujung dimana konektor terpasang.
Serat optik tidak membutuhkan twisting ataupun shielding, karena tidak
ada sinar yang mampu keluar ketika berada didalam serat optik. Ini
berarti, serat optik tahan terhadap crosstalk. Hal ini memungkinkan ada
banyak serat optik didalam satu kabel. Satu kabel dapat berisi 2 sampai
dengan 48 serat yang terpisah.
Gambar. 61
Gambar. 62
Modul NTW.OPR.200.(2).A 95
Biasanya ada lima bagian yang membentuk serat optik yaitu core,
cladding, sebuah buffer, material yang kuat dan outer jacket.
Core adalah element transmisi cahaya yang berada pada pusat serat
optik. Seluruh sinar cahaya melewati core. Core umumnya terbuat dari
gelas yang merupakan kombinasi dari silicon dioxide (silica) dan elemen
lainnya. Multimode menggunakan tipe gelas yang disebut graded index
glass. Gelas ini memiliki indeks bias makin mengecil. Dengan kata lain,
bagian terluar gelas memiliki indeks bias terkecil, sedangkan bagian
terdalam memiliki indeks bias terbesar. Desain ini dibuat agar sinar
yang melalui bagian terdalam dan menempuh jarak yang paling pendek
dapat tiba bersamaan dengan sinar yang memantul di bagian luar core
dan menempuh jarak paling jauh.
Cladding adalah bagian yang mengelilingi core. Cladding juga dibuat
dari silica tetapi memiliki indeks bias terendah dibandingkan core. Sinar
Gambar. 63
Modul NTW.OPR.200.(2).A 96
cahaya akan dipantulkan kembali oleh cladding ke dalam core. Kabel
serat optik multimode standar banyak digunakan untuk LAN. Kabel ini
memiliki diameter cladding 125 micron.
Mengelilingi cladding adalah buffer yang biasanya terbuat dari plastik.
Material ini membantu melindungi core dan cladding dari kerusakan.
Ada dua desain dasar kabel yaitu loose tube dan tight-buffered.
Kebanyakan desain yang digunakan adalah tight-buffered. Kabel tightbuffered
memiliki material buffer yang bersentuhan langsung dengan
cladding. Sedangkan pada loose tube, buffer tidak bersentuhan
langsung tetapi memiliki rongga udara diantaranya. Tight-buffered
banyak digunakan untuk didalam gedung sedangkan loose tube
digunakan untuk diluar gedung.
Material yang kuat digunakan untuk mengelilingi buffer dan digunakan
untuk mencegah kabel tertarik ketika pemasangan. Material yang
Gambar. 64
Modul NTW.OPR.200.(2).A 97
banyak digunakan adalah kevlar, bahan yang sama untuk rompi anti
peluru.
Bagian yang terakhir adalah outer jacket. Outer jacket mengelilingi
kabel untuk melindungi serat dari lecet, kerusakan dan kontaminasi
lainnya. Warna dari outer jacket untuk kabel multimode biasanya
oranye sedangkan untuk single mode adalah kuning walau mungkin
menggunakan warna lainnya.
Multimode memiliki spesifikasi sebagai berikut:
Ukuran core yang lebih besar dari single mode yaitu 50 atau 62,5
micron atau lebih besar.
Memungkinkan adanya dispersi (penghamburan) yang lebih besar,
sehingga memungkinkan hilangnya sinyal lebih besar.
Panjang maksimum 2 km (lebih pendek dari single mode).
Menggunakan LED sebagai sumber cahaya.
Single mode memiliki spesifikasi sebagai berikut:
Ukuran core yang lebih kecil yaitu 5–8 micron.
Dispersi yang lebih kecil.
Cocok untuk penggunaan jarak jauh.
Menggunakan laser sebagai sumber cahaya.
Pada serat optik single mode, sudut datang adalah 90 derajat terhadap
permukaan serat optik yang menyebabkan sinar melalui garis lurus
didalam core serat optik. Hal ini menyebabkan peningkatan kecepatan
dan jarak yang dapat ditempuh.
Karena desain tersebut, single mode memiliki bandwidth yang lebih
besar serta jarak yang lebih jauh dari multimode. Hanya kabel ini relatif
lebih mahal dari multimode dan menggunakan laser yang lebih mahal
Modul NTW.OPR.200.(2).A 98
dari LED. Melihat spesifikasinya single mode banyak digunakan untuk
koneksi antar gedung.
Perlu diperhatikan penggunaan laser pada single mode. Laser dapat
merusak mata. Oleh karena itu jangan pernah melihat ujung jauh dari
kabel single mode yang sudah terpasang, atau melihat transmit port
dari Router, Switch atau NIC yang menggunakan kabel single mode.
Pastikan untuk selalu memasang tutup pelindung pada ujung dari kabel
serat optik single mode dan memasangnya pada port optical dari switch
atau router.
13. Perangkat transmisi serat optik
Kebanyakan data yang dikirimkan melalui LAN dalam bentuk sinyal
elektronik. Oleh karena itu dibutuhkan perangkat yang merubah sinyal
elektrik ke dalam bentuk cahaya dan sebaliknya. Hal ini berarti
dibutuhkan trasmitter dan receiver.
Gambar. 65
Gambar. 66
Modul NTW.OPR.200.(2).A 99
Transmitter menerima data untuk dikirimkan dari router atau switch.
Data ini dalam bentuk sinyal elektronik. Transmitter merubah sinyal
elektronik kedalam bentuk gelombang cahaya. Ada dua sumber cahaya
yang digunakan yaitu:
LED (Light Emitting Diode) yang menghasilkan sinar infra merah
dengan panjang gelombang 850 nm atau 1310 nm. Lensa
digunakan untuk mengfokuskan sinar infra merah pada ujung
penerima.
LASER (Light Amplification by Stimulated Emission Radiation) yang
akan menghasilkan sinar tipis dengan panjang gelombang 1310 nm
atau 1550 nm.
Setiap sumber cahaya tersebut dapat mati dan hidup dengan sangat
cepat untuk mengirim data (0 atau 1) pada jumlah bit yang banyak
setiap detik.
Pada ujung lainnya dari serat optik dipasang alat yang disebut receiver.
Ketika cahaya mengenai receiver, akan menimbulkan energi listrik.
Tugas pertama dari receiver adalah mendeteksi cahaya yang datang
dari serat optik. Kemudian receiver merubah cahaya tersebut menjadi
sinyal elektronik sehingga dapat dikirimkan kembali ke jaringan.
Perangkat semikonduktor yang digunakan sebagai receiver adalah
pintrinsic-n diode (PIN photodiodes). PIN photodiode didesain agar
sensitif terhadap cahaya dengan panjang gelombang 850, 1310 atau
1510 nm.
Konektor dibutuhkan agar kabel serat optik dapat terpasang pada port
yang tersedia. Tipe konektor yang banyak digunakan untuk kabel serat
optik multimode adalah Subscriber Connector (SC Connector). Pada
single mode menggunakan konektor Straigh Tip (ST Connector).
Modul NTW.OPR.200.(2).A 100
Perangkat lainnya adalah repeater. Repeater digunakan untuk
menguatkan sinyal optik supaya menempuh jarak yang lebih jauh
dengan mengembalikan sinyal tersebut ke dalam bentuk, kekuatan dan
timing yang sama dengan aslinya. Dengan adanya repeater maka jarak
yang lebih jauh dari spesifikasi serat optik dapat dilalui.
14. Sinyal dan Noise pada Serat Optik
Kabel serat optik tidak dipengaruhi oleh sumber noise dari luar yang
menyebabkan problem seperti kabel tembaga karena cahaya luar tidak
dapat masuk pada serat optik kecuali pada transmitter. Buffer dan
outer jacket dapat mencegah sinar masuk atau keluar dari kabel.
Lebih lanjut, transmisi cahaya dari satu serat tidak akan menciptakan
interferensi ke serat lainnya. Artinya serat optik tidak memiliki masalah
crosstalk seperti halnya kabel tembaga. Meskipun serat optik
merupakan media transmisi terbaik untuk membawa data berukuran
besar dengan jarak yang jauh, bukan berarti tidak memiliki masalah.
Ketika cahaya melalui serat, ada beberapa energi cahaya yang hilang.
Pengurangan sinyal terjadi karena beberapa faktor yang melibatkan
sifat alami serat optik. Faktor utama yaitu scattering (penghamburan).
Scattering cahaya dalam serat optik disebabkan microscopic
Gambar. 67
Modul NTW.OPR.200.(2).A 101
nonuniformity (distorsi) pada serat yang memantulkan dan
menghamburkan beberapa energi cahaya.
Absorption adalah faktor lain hilangnya energi. Ketika sinar cahaya
menghantam beberapa bahan kimia yang tidak murni dalam serat,
bahan tersebut menyerap sebagian energi. Energi cahaya tersebut
dirubah ke sejumlah kecil energi panas.
Faktor lain yang menyebabkan attenuation (pengurangan) dari sinyal
cahaya adalah pembuatan batas core dan cladding yang tidak baik.
Energi hilang karena kurang sempurnanya pemantulan yang disebabkan
kasarnya pembuatan kabel tersebut. Setiap ketidaksempurnaan
walaupun berukuran kecil akan mengurangi energi cahaya tersebut.
Penghamburan (dispersion) cahaya juga membatasi jarak dari sebuah
cahaya. Dispersion adalah istilah teknik untuk pelebaran pulsa sinyal
ketika menempuh perjalanan didalam serat optik.
Gambar. 68
Modul NTW.OPR.200.(2).A 102
Chromatic dispersion terjadi ketika beberapa panjang gelombang suatu
cahaya melakukan perjalanan pada kecepatan yang sedikit berbeda
melalui sebuah gelas dan melakukan seperti panjang gelombang
lainnya. Idealnya, sumber cahaya LED atau laser mengeluarkan cahaya
dalam satu frekuensi. Sayangnya laser, apalagi LED mengeluarkan
sekumpulan cahaya dengan panjang gelombang berdekatan yang
menyebabkan chromatic dispersion. Hal ini membatasi panjang dari
serat optik. Jika sinyal dikirim terlalu jauh akan menyebabkan sinyal
melebar, terpisah dan gelap ketika mencapai penerima. Penerima tidak
akan mampu membedakan bit 1 dengan 0
Penyebab utama attenuation pada kabel serat optik adalah instalasi
yang tidak sesuai. Jika serat optik ditarik atau dilengkungkan terlalu
ketat, akan menyebabkan patah yang kecil pada core serat optik dan
membuat sinar menjadi menghambur. Menekuk serat optik terlalu kuat
juga merubah sudut datang dari sinar. Kemudian sinar datang akan
menjadi kurang dari sudut kritis untuk pemantulan sempurna. Hal ini
menyebabkan beberapa sinar akan membias ke cladding dan hilang.
Gambar. 69
Modul NTW.OPR.200.(2).A 103
Untuk mencegah serat optik tertekuk terlalu tajam, biasanya serat optik
dimasukkan kedalam pipa yang disebut interducting. Interducting jauh
lebih kaku dari serat optik dan tidak dapat ditekuk terlalu tajam.
Interducting melindungi serat optik, membuat lebih mudah menarik
serat optik dan memastikan batas pelengkungan serat optik tidak
dilalui.
Ketika serat optik telah dipasang, ujung dari serat optik harus dipotong
dan dihaluskan untuk memastikan ujungnya menjadi lebih halus.
Mikroskop atau instrumen test lainnya digunakan untuk memastikan
ujungnya lebih tajam dan halus. Kemudian konektor dipasang secara
hati-hati. Pemasangan konektor yang tidak sesuai, penyambungan yang
tidak sesuai atau menyambungkan dua serat yang berbeda ukuran
corenya dapat mengurangi kekuatan sinyal.
Gambar. 70
Modul NTW.OPR.200.(2).A 104
Setelah kabel serat optik dan konektor terpasang, konektor dan ujung
serat optik harus dijaga untuk selalu bersih. Ujung dari serat optik
harus ditutup pelindung untuk mencegah kerusakan pada ujungnya.
Ketika penutupnya dilepas untuk memasang kabel tersebut maka ujung
serat optik harus dijaga kebersihannya. Bersihkan ujung kabel dengan
kain tissu pembersih lensa yang diberi alkohol isopropyl murni. Port
serat optik pada switch atau router juga harus dibersihkan. Ujung yang
kotor dapat menyebabkan hilangnya sinyal yang menuju penerima.
Sebelum menggunakan kabel serat optik, ujilah kabel tersebut untuk
memastikan sinyal dapat diterima dengan baik. Ketika merencanakan
jalur serat optik, hitunglah kehilangan energi yang masih dapat
ditoleransi. Hal tersebut disebut optical link loss budget. Alat ukur yang
digunakan untuk menguji serat optik adalah Optical Loss Meter dan
Optical Time Domain Reflectometers (OTDR). OTDR memiliki kelebihan
untuk menguji serat optik lebih lanjut dan dapat digunakan untuk
mengatasi masalah pada serat optik.
Gambar. 71
Modul NTW.OPR.200.(2).A 105
c. Rangkuman
1. Spektrum elektomagnetik adalah susunan gelombang elektromagnetik
yang disusun dari panjang gelombang tertinggi sampai dengan
terendah.
2. Ada tiga cara dasar modulasi yaitu yang pertama adalah Amplitude
Modulation (AM), dimana tinggi (amplitudo) sinyal pembawa berubah–
ubah sesuai dengan sinyal data. Kedua adalah Frequency Modulation
(FM), dimana kerapatan (frekuensi) sinyal pembawa berubah–ubah
sesuai dengan amplitudo sinyal data. Ketiga adalah Phase Modulation
(PM), dimana fase sinyal pembawa berubah–ubah sesuai dengan
perubahan sinyal data.
3. Cahaya akan menembus dengan kecepatan 300.000 kilometer per detik
dalam suatu garis lurus pada vacuum. Cahaya akan memiliki kecepatan
yang lebih rendah apabila melalui material lainnya seperti udara, air dan
gelas. Ketika sinar cahaya melalui batas sebuah material dengan
material lainnya, beberapa energi cahaya tersebut akan dipantulkan
kembali.
4. Sudut diantara sinar datang dan garis tegak lurus dengan permukaan
sebuah material disebut sudut datang. Garis tegak lurus tersebut
disebut garis normal. Sudut diantara garis normal dengan sinar pantul
disebut sudut pantul. Hukum pemantulan cahaya menyebutkan bahwa
sudut datang sama dengan sudut pantul.
5. Energi cahaya yang tidak memantul akan masuk ke material tersebut.
Cahaya yang masuk akan dibelokkan dari jalur yang seharusnya.
Cahaya ini disebut sinar bias (refracted ray). Berapa banyak sudut yang
terbentuk diantara sinar datang dan sinar bias tergantung pada sudut
diantara sinar datang dan permukaan material serta perbedaan
kecepatan cahaya ketika cahaya melalui kedua material tersebut.
Modul NTW.OPR.200.(2).A 106
d. Tugas
1. Pelajarilah uraian materi tentang prinsip kerja WaveLAN dan Serat
Optik!
2. Lihatlah konfigurasi dari WaveLAN yang terdekat pada sekolah anda!
3. Carilah materi yang terkait dengan WaveLAN dan Serat Optik!
4. Diskusikan dengan teman anda!
e. Tes Formatif
1. Jelaskan keuntungan menggunakan WaveLAN!
2. Sebutkan perangkat yang dibutuhkan untuk membangun WaveLAN!
3. Sebutkan dan jelaskan tipe–tipe proses autentikasi berdasarkan standar
802.11!
4. Sebutkan bagian–bagian dari kabel serat optik!
5. Sebukan spesifikasi dari serat optik tipe single mode!
Modul NTW.OPR.200.(2).A 107
f. Kunci Jawaban Tes Formatif
1. Keuntungan menggunakan WaveLAN adalah sebagai berikut:
•Mobility, kemampuan perangkat untuk lebih mudah berpindah
seperti laptop, PDA, Smart Device dll).
•Scalability, kemampuan jaringan untuk berkembang mengikuti
kebutuhan pengguna.
•Flexibility, kemampuan jaringan untuk menyesuaikan dengan kondisi
lingkungan dimana jaringan akan dipasang.
•Short and long term cost saving, kemampuan jaringan untuk
mengefisienkan biaya untuk jangka waktu pendek dan panjang.
•Instalasi yang lebih mudah dan cepat.
•Mampu bertahan dalam lingkungan kerja yang keras
2. Perangkat yang dibutuhkan untuk membangun jaringan WaveLAN
adalah:
•Wireless NIC
•Access Point
•Antena
3. Ada dua tipe proses autentikasi berdasarkan standar 802.11 yaitu:
•Open system
Proses ini adalah standar koneksi yang terbuka dimana hanya SSID
yang harus sama.
•Shared key
Proses ini membutuhkan penggunaan enkripsi WEP (Wireless
Equivalency Protocol). WEP adalah algoritma sederhana
menggunakan kunci 64 dan 128 bit. AP dikonfigurasi dengan kunci
enkripsi dan host yang mencoba mengakses jaringan melalui AP
harus mempunyai kunci yang cocok. Menggunakan proses ini lebih
bagus dibandingkan open system walaupun bukan berarti tahan
Modul NTW.OPR.200.(2).A 108
”hack”. Problem keamanan pada WaveLAN diatasi dengan beberapa
solusi teknologi keamanan yang baru
4. Bagian–bagian dari kabel serat optik adalah:
•Core
•Cladding
•Buffer
•Material yang kuat (Kevlar)
•Outer Jacket
5. Single mode memiliki spesifikasi sebagai berikut:
•Ukuran core yang lebih kecil yaitu 5–8 micron
•Dispersi yang lebih kecil
•Cocok untuk penggunaan jarak jauh
•Menggunakan laser sebagai sumber cahaya
g. Lembar Kerja
Alat dan bahan:
1. Pensil/ball point ............................................. 1 buah
2. Penghapus ..................................................... 1 buah
3. Kertas folio...................................................... secukupnya
4. Server ............................................................. 1 unit
5. Notebook PC ................................................... 2 unit
6. PDA ............................................................... 2 unit
7. Access Point / Wireless Bridge .......................... 3 buah
8. Switch............................................................. 3 buah
Kesehatan dan Keselamatan Kerja
1. Berdo’alah sebelum memulai kegiatan belajar.
2. Bacalah dan pahami petunjuk praktikum pada setiap lembar kegiatan
belajar.
Modul NTW.OPR.200.(2).A 109
3. Pastikan komputer, HUB, kabel, konektor, router dan switch semua
kondisinya baik.
4. Jangan meletakkan benda yang dapat mengeluarkan medan
elektromagnetik di dekat komputer, switch, hub dan router (magnet,
handphone, dan sebagainya).
5. Gunakanlah komputer dan router sesuai fungsinya dengan hati-hati.
6. Setelah selesai, matikan komputer dengan benar.
Lembar Kerja
1. Amati jenis antena dan access point pada jaringan WaveLAN di sekolah
anda!
2. Buatlah jaringan sesuai gambar dibawah ini dan konfigurasikan semua
peralatan didalamnya!
3. Periksakan hasil kerja anda pada instruktur!
4. Kembalikan seluruh peralatan pada tempatnya!
Gambar. 72
Modul NTW.OPR.200.(2).A 110
Kegiatan Belajar 5. Menguji Wide Area Network
a. Tujuan Pemelajaran
Setelah mempelajari kegiatan belajar ini peserta diklat mampu menjelaskan
pengujian Wide Area Network dan alat–alat yang dibutuhkan.
b. Uraian materi
1. Spectrum Analyzer
Alat ini digunakan untuk mengetahui spektrum frekuensi yang telah
digunakan oleh jaringan WaveLAN lainnya. Dengan alat ini juga dapat
diketahui apakah channel yang kita gunakan sesuai dengan alokasi
frekuensi yang seharusnya.
2. OTDR (Optical Time Domain Reflectometers)
Alat ini digunakan untuk menguji serat optik. Dengan alat ini dapat
diketahui apakah sinyal serat optik dapat diterima dengan baik oleh
penerima. Alat ini juga dapat menghitung kehilangan energi yang
didapat dari serat optik
3. Loss Power Meter
Alat ini digunakan untuk menghitung kehilangan energi yang didapat
dari serat optik. Hasilnya dapat dibandingkan dengan teori optical link
loss budget.
Modul NTW.OPR.200.(2).A 111
2. Software Client Utility Status
Software ini merupakan bawaan dari perangkat client WaveLAN yang
kita beli. Dari software ini kita dapat melihat kekuatan sinyal dan
kualitas sinyal.
Gambar. 73
Modul NTW.OPR.200.(2).A 112
3. Software Link Test
Software ini juga merupakan bawaan dari perangkat client WaveLAN.
Dengan software ini kita dapat mengukur level noise yang didapat pada
sebuah jaringan WaveLAN.
Gambar. 74
Modul NTW.OPR.200.(2).A 113
c. Rangkuman
1. Spectrum Analyzer digunakan untuk mengetahui spektrum frekuensi
yang telah digunakan oleh jaringan WaveLAN lainnya.
2. OTDR dan Loss Power Meter digunakan untuk menguji serat optik.
3. Software Client Utility Status digunakan untuk melihat kekuatan sinyal
dan kualitas sinyal.
4. Software Link Test digunakan untuk mengukur level noise yang didapat
pada sebuah jaringan WaveLAN.
d. Tugas
1. Pelajarilah uraian materi tentang menguji WAN. Buatlah rangkuman
dari materi tersebut, diskusikan dengan teman anda.
2. Lihatlah perangkat pengujian yang tersedia di sekolah anda!
Gambar. 75
Modul NTW.OPR.200.(2).A 114
3. Carilah materi yang terkait dengan pengujian jaringan WAN! Diskusikan
dengan teman anda!
e. Tes Formatif
1. Sebutkan alat yang digunakan untuk mengetahui channel yang telah
digunakan!
2. Sebutkan alat yang digunakan untuk menguji sinyal serat optik telah
diterima dengan baik atau tidak!
3. Sebutkan alat untuk menguji kehilangan energi pada serat optik!
f. Kunci Jawaban Tes Formatif
1. Spectrum Analyzer
2. OTDR
3. OTDR dan Loss Power Meter
g. Lembar Kerja
Alat dan bahan:
1. Pensil/ball point ............................................. 1 buah
2. Penghapus ..................................................... 1 buah
3. Kertas folio...................................................... secukupnya
4. Server ............................................................. 1 unit
5. Notebook PC ................................................... 2 unit
6. PDA ............................................................... 2 unit
7. Access Point / Wireless Bridge .......................... 3 buah
8. Switch............................................................. 3 buah
9. Software Client Utility Status ............................ 1 buah
10. Software Link Test ........................................... 1 buah
Modul NTW.OPR.200.(2).A 115
Kesehatan dan Keselamatan Kerja
1. Berdo’alah sebelum memulai kegiatan belajar.
2. Bacalah dan pahami petunjuk praktikum pada setiap lembar kegiatan
belajar.
3. Pastikan komputer, switch, notebook dan Access Point semua
kondisinya baik.
4. Jangan meletakkan benda yang dapat mengeluarkan medan
elektromagnetik di dekat komputer, switch, notebook dan access point
(magnet, handphone, dan sebagainya).
5. Gunakanlah komputer dan notebook sesuai fungsinya dengan hati-hati.
6. Setelah selesai, matikan komputer dengan benar.
Lembar Kerja
1. Amati semua jaringan dan peralatan tes disekolah anda!
2. Buatlah jaringan yang serupa dengan lembar kerja 4!
3. Ujilah jaringan tersebut dengan peralatan dan software yang tersedia!
4. Periksakan hasil kerja anda pada instruktur!
Kembalikan seluruh peralatan pada tempa

0 komentar:

Posting Komentar

 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies